Home / TOPAD

Minggu, 28 Februari 2021 - 21:55 WIB

Apakah Negara Paling Bahagia Ada di Negara Paling Religius?

Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

IDEALNYA rakyat atau negara yang religius akan linier terhadap kebahagiaan, karena memang agama itu berisi ajaran kebenaran dan kasih terhadap sesama. Karena di dalam kehidupan masyarakat yang selalu berlandaskan kebenaran dan hidup saling mengasihi, menghargai, toleransi, maka akan terjaga ketertiban, kedamaian, keamanan dan kerjasama, yang pada akhirnya akan membawa kebahagiaan.

Kenyataan yang ada sangat berbeda, setelah membaca hasil survei berbagai lembaga yang kredibel, ternyata tidak demikian hasilnya.

Urutan Negara Paling Bahagia

Berdasarkan hasil survei Sustainable Development Solution Network (SDSN) tahun 2020, dari 153 negara, urutan 10 teratas negara terbahagia adalah Finlandia, Denmark, Switzerland, Iceland, Norway, Netherlands, Sweden, New Zealand, Austria dan Luxemburg. Delapan dari negara tersebut adalah Skandinavia, negara bagian utara Eropa.

Urutan Negara Paling Religius

Kemudian urutan negara paling religius berdasarkan data survei Divide 2020, menempatkan Indonesia pada peringkat teratas (98%), disusul Filipina, Nigeria, Kenya, dan Tunisia, dengan hasil 91-93%. Disusul negara-negara Arab dengan persentase dikisaran tujuh puluhan persen (70 %) sampai delapan puluhan persen (80 %).

Negara-negara Eropa atau negara kaya lainnya, umumnya berada di bawah negara-negara Asia dan Afrika.

Negara yang berada pada 10 besar negara paling bahagia, hanya berada pada peringkat terbawah, yang menjawab pentingnya agama hanya di kisaran 20%-30%. Finlandia (28 persen), Denmark (19 persen), Switzerland (41 persen), Iceland (tak ada data), Norway (22 persen), Netherlands (33 persen), Sweden (15 persen), New Zealand (33 persen), Austria (55 persen), Luxemburg (39 persen).

Finlandia dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia, dimana tingkat korupsi sangat rendah, kepolisian di Finlandia disebut sebagai polisi paling dapat dipercaya di dunia. Masyarakat setempat memiliki toleransi dan rasa hormat pada sesama termasuk orang luar.

Masyarakat Finlandia merasa bahagia karena mereka mengerti esensi bahwa hidup dapat dibuat sesimpel mungkin. Mereka menyukai dan menikmati hal-hal simpel serta tidak serakah. Hubungan antar masyarakatnya pun sangat simpel. Lingkungan sangat bagus, kesetaraan sosial maupun gender. Saling percaya dan merasakan rasa memiliki cenderung membuat mereka merasa sejahtera.

Lingkungan sosial yang bahagia, baik perkotaan atau pedesaan, adalah tempat dimana orang merasakan rasa memiliki, dimana mereka saling percaya dan menikmati satu sama lain dan lembaga bersama mereka.

Dimana Letak Kesalahannya?

Lembaga survei tersebut sudah benar menanyakan perihal peribadatan, kepercayaan ke Tuhan dan pentingnya agama dan Tuhan bagi si responden.

Hasil survei ini dapat menjadi bumerang, bukan malah menjadi suatu kebanggaan. Bagaimana jadinya jika ada pernyataan yang muncul bahwa untuk menjadi negara paling bahagia, tidak perlu menjadi religius, atau tidak perlu mementingkan agama? Pertanyaaan demikian tentu dapat muncul dari dua hasil survei, peringkat negara paling bahagia dan hasil survei dari negara paling religius tersebut.

Siapa Yang Bertanggungjawab?

Negara Finlandia yang selalu menduduki peringkat pertama, memang pantas jika kita melihat langsung kehidupan dari negara tersebut, benar-benar seperti yang didambakan manusia umumnya.

Masyarakatnya penuh kedamaian, aman, kekeluargaan, mendapatkan pelayanan maksimal dari pemerintah, sekolah dan berobat gratis, kekeluargaan dan saling percaya.

Jika kondisi tersebut dikaitkan dengan agama, maka bukankah apa yang terwujud di Finlandia, buah dari perilaku dan sikap masyarakatnya yang berperilaku seperti yang diharapkan ajaran agama? Masalah Covid-19 pun bagi mereka dapat diselesaikan dengan mudah, karena kondisi kepatuhan masyarakatnya yang sudah menjadi habit.

Namun yang membingungkan adalah kenapa jawaban mereka tidak terlalu mementingkan agama sehingga peringkat negara tersebut berada pada tingkat yang sangat rendah?

Mengapa pula, bangsa kita negara Indonesia, berpredikat negara paling religius, yang hampir 98% menjawab bahwa agama adalah faktor terpenting, namun tidak tercipta di negaranya seperti yang ada di negara Finlandia?

Apakah ada kemungkinan bahwa negara Finlandia dan negara yang masuk 10 besar lainnya, sebenarnya merekalah negara yang paling religius, namun dengan sikap rendah hatinya, mereka menjawab tidak? Karena dalam ajaran agama itu, Tuhan benci terhadap orang congkak, meninggikan hatinya. Ada tertulis dalam kitab suci, “Yang merendah akan ditinggikan, dan sebaliknya”.

Bagaimana bangsa ini, Indonesia mempertanggungjawabkan predikat negara paling religius tersebut? Apakah ada yang salah? Salahnya dimana, apakah ada jawaban kita yang terlalu meninggikan, mengaku religius, akan tetapi tidak menerapkan pengakuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Sedangkan negara Finlandia dan negara lain yang masuk 10 besar, melakukan sebaliknya?

Menutup tulisan ini, penulis hanya menyimpulkan bahwa pasti ada yang salah. Namun salahnya dimana diserahkan kepada pembaca. Penulis sudah uraikan, pembaca yang menjawab. Pertanyaan berikut mungkin bisa membantu untuk mendapatkan jawabannya.

Apakah mungkin materi pertanyaan lembaga survei kurang adaptif? Apakah warga negara yang memberikan jawaban kurang jujur? Apakah mungkin dalam menjawab ada faktor kecongkakan yang mungkin hanya dimiliki oleh negara tertentu? Apakah mungkin ada faktor kemunafikan, yang tidak merata ada di setiap negara? Apakah mungkin survei diulang saja dengan menyuguhkan tambahan pertanyaan, apakah ajaran agama yang kamu ketahui, juga kamu praktekkan dalam kehidupa mu sehari-hari? Berapa persen yang kau terapkan dari yang kau ketahui? Dan tambahan pertanyaan lainnya, yang fokus pertanyaannya diarahkan pada kadar implementasi dan kejujuran menjawab.

Share :

Baca Juga

Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Save By The Covid-19
Ketua Umum PUSATNUSA Topad. Foto/Radhea Heqamudisa

NASIONAL

Pemberlakuan Kembali Ganjil-Genap Jakarta Tidak Tepat Sasaran
Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (PUSATNUSA) Parluhutan S. SE.Ak, M.Ak, CA, CMA atau Topad memberikan arahan kepada para relawan muda dalam mengembangkan sistem pasar digital untuk para pelaku Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM), di Gedung Gorga, Jakarta, Senin (3/8). (Foto: Radhea Heqamudisa/Beritanusa.id)

TOPAD

Selamat dan Harapan Pusatnusa Atas Perayaan Milad ke-108 Muhammadiyah
Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan S (Topad). Foto/Beritanusa

TOPAD

Uang Tidak Mengenal Saudara

TOPAD

Awas! Pahlawan Palsu?
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Perwujudan ‘Polisi dan Indonesia Raya Terbarukan’

TOPAD

Korupsi Pengadaan dan Tanggungjawab LKPP
Parluhutan S (Topad), Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa

TOPAD

Revitalisasi Kearifan Lokal