Home / GLOBAL

Selasa, 4 Agustus 2020 - 20:05 WIB

AS Bakal Balas Jika Bentrok dengan China di LCS

Ilustrasi kapal coast guard China. Foto/Ist

Ilustrasi kapal coast guard China. Foto/Ist

JAKARTA, BERITANUSA.id – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, pekan lalu mencabut kebijakan netralitas di Laut China Selatan (LCS), dan memperingatkan China untuk bersiap terhadap “pembalasan” jika terjadi bentrokan di kawasan perairan itu.

Dilansir Express, Selasa (4/8), China dan AS kini terlibat perang dingin setelah Beijing berulang kali mengajukan klaim atas kedaulatan di Laut China Selatan.

AS mempertahankan kebijakan bahwa China tidak berhak mengklaim Laut China Selatan, dan menunjukkan dukungan kepada negara sekutu di Asia Tenggara yang juga mengklaim berdaulat atas wilayah tersebut.

“Kami memiliki sejarah kapal China melecehkan tak hanya kapal AS, tapi juga kapal negara lain,” kata mantan Pejabat urusan China di Kementerian Hukum AS, Joseph Bosco, kepada Arirang News.

“Sampai sekarang AS dan negara lain belum membalas. Saya khawatir kita mencapai titik di mana Angkatan Laut AS tidak akan mentolerir gangguan dengan operasi kebebasan navigasi,” tambahnya.

Bosco mengatakan ada kemungkinan AS akan membalas jika terjadi bentrok dengan Angkatan Laut China di Laut China Selatan.

“Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang akan dilakukan kedua belah pihak? Jika AS memberi tanggapan permusuhan terhadap sikap China, apakah (konflik) akan meningkat dan mencoba sesuatu yang lebih serius? Ada kemungkinan (terjadi) semacam bentrokan,” ujar Bosco.

Bosco mencontohkan, AS dan China memiliki beberapa insiden di masa lalu. Contohnya insiden EP3 pada 2001 di mana pilot pesawat tempur China terbang terlalu dekat dengan pesawat pengintai AS. Pesawat itu jatuh, pilot tewas, dan pesawat AS hancur.

“(Ketegangan) bisa meningkat, kedua belah pihak menunjukkan kehati-hatian dan tidak membiarkan hal itu menjadi lepas kendali,” kata Bosco.

Juli lalu, Australia setuju bergabung dengan AS untuk meningkatkan patroli untuk menahan ekspansi China di LCS.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, menuduh AS justru meningkatkan ketegangan dengan ikut campur dalam urusan dalam negeri China.

“Pompeo mengaku bertindak sesuai hukum internasional, tapi semua orang tahu AS terbiasa mencari kepentingannya sendiri atas dasar hukum internasional,” ujar Wang dalam konferensi pers pekan lalu.

“Faktanya, bukan China tapi AS yang meningkatkan militerisasi Laut China Selatan dan meningkatkan ketegangan,” ujarnya.

Wang mengatakan laporan publik menunjukkan pada paruh pertama tahun ini, pesawat militer AS terlihat lebih dari dua ribu kali berada di LCS.

“Kami mendesak AS dan Australia mengubah sikap mereka terhadap China, berhenti mencampuri urusan dalam negeri China dan merusak kepentingan China serta menciptakan kondisi yang menguntungkan untuk terciptanya hubungan bilateral,” kata Wang.

“Kami juga mendesak AS dan Australia untuk memainkan peran konstruktif dalam memastikan perdamaian, stabilitas, dan pembangunan regional,” tambah Wang. (cnn/idn)

Share :

Baca Juga

Ilustrasi virus corona.

GLOBAL

WHO Akui Bukti bahwa Virus Corona Dapat Menyebar Melalui Udara
asukan keamanan India memperketat pengamanan di perbatasan demi mencegah masuk warga Myanmar yang ingin kabur dari pemerintahan junta militer. Foto/Ist

GLOBAL

India Perketat Perbatasan Cegah Warga Myanmar Masuk
Seorang pria berjalan di lokasi tanah longsor yang disebabkan oleh hujan lebat di Tsunagi, Prefektur Kumamoto pada 7 Juli 2020. Foto/AFP

GLOBAL

Gempa M 7,1 Guncang Jepang, Ini Kata BMKG
Vaksin covid-19 produksi Sinovac. Foto/AFP

GLOBAL

Singapura dan Malaysia Tinjau Ulang Vaksin Sinovac
Topan Masyak menerjang Korea Selatan. AFP

GLOBAL

2.200 Orang Diungsikan Akibat Topan Masyak
Mantan presiden Luiz Inácio Lula da Silva. Foto/AFP

GLOBAL

Lagi, Mantan Presiden Brasil Jadi Tersangka Pencucian Uang
Pemerintah Australia meningkatkan kewaspadaan setelah lima orang terdeteksi mengidap infeksi mutasi virus corona (Covid-19) dari Rusia. Foto/AP

GLOBAL

Australia Waspadai Mutasi Corona dari Rusia
Perdana Menteri (PM) Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin. Foto/Istimewa

GLOBAL

PM Malaysia Belajar Tangani Pandemi dari Indonesia