Home / TOPAD

Sabtu, 11 Juli 2020 - 13:50 WIB

Awas! Pahlawan Palsu?

Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa).

PENANGGULANGAN covid-19 belum berakhir, kantor dan sekolah belum dibuka, kegiatan ekonomi masih slow down namun perbincangan terkait krisis ekonomi, politik dan hukum tidak pernah berhenti. Berita terkini meliput kebijakan pemulihan ekonomi nasional yang dinilai lebih mementingkan perusahaan besar, issu hutang, issu pemakzulan, issu rasisme, gebrakan menteri dikaitkan persiapan pilpers 2024 dan kebijakan new normal. Kritikan tidak lepas dari sebutan mementingkan rakyat dan NKRI. Bulan lalu ada assosiasi memperingatkan pemerintah bahwa perusahaan hanya mampu bertahan sampai bulan Juni 2020, maka untuk selanjutnya perlu dibantu agar tidak melakukan PHK. Bank juga minta dibantu demi untuk bertahan. Anggota komisi I DPR, Adian Napitupulu melontarkan kritikan terkait dana talangan ke BUMN Rp. 152 trilliun agar BUMN tetap hidup. Kenyataannya dana talangan Rp. 8,5 trilliun ke Garuda namun PHK massal tetap terjadi, sehingga ada indikasi dana talangan tidak murni menyalamatkan Garuda, disinyalir untuk mengamankan saham swasta di Garuda. Dikhawatirkan kebijakan sejenis yang digelontorkan ke perusahaan swasta akan bernasib yang sama seperti tahun 1998 dengan banyaknya dana talangan yang raib.

Di media sosial ada youtube yang dikemas dengan baik, tampilan gambar, warna, suara, musik pengiring dan presenter sangat piawai menyampaikan materi, sehingga mudah dicerna dan dapat menghipnotis pendengarnya, terbukti follower mencapai jutaan. Materi kekinian dan dibungkus drama heroik dan mengedepankan nasionalisme dan NKRI. Menunjuk kebodohan dari pembuat kebijakan dan pelaksana “sumber daya alam” Indonesia mampu mengesankan sikap heroik dan nasionalisme dari presenter yang akrab dengan sebutan Bossman Sontoloyo atau Mardigu, MP. Sebelumnya saya tertarik mendengar beberapa ulasan di youtube yang mengulas materi globalisme, degitalisasi, ekonomi keynes, komplik negara Cina dan Amerika. Cara negara Cina, Jepang, Jerman dan Amerika untuk bangkit dari krisis menjadi negara besar disarankan agar dapat dicontoh oleh Indonesia. Menyanjung Teori Moneter Modern (MMT–Modern Monetary Theory), yaitu printing money (mencetak uang sebanyak-banyaknya) untuk mengatasi krisis ekonomi.

Pengakuan Bossman, sudah 700 an youtube tayang dan sudah mempersiapkan sampai 1000 sampai oleh semua lapisan dan menarik untuk diketahui. Namun disayangkan bahwa semakin terlihat propoganda untuk mengarahkan kebijakan tertentu untuk diterapkan di Indonesia. Contohnya MMT sudah berulang ditayangkan dengan judul yang berbeda dan mulai mendesak pemerintah dengan kata-kata tidak paham dan takut untuk menerapkan MMT tersebut. Jika tidak paham, presenter tersebut menawarkan diri untuk dipanggil menyampaikan konsepnya. Pandangan saya, MMT bagus di negara luar, seharusnya Bossman memahami bahwa Indonesia sangat berbeda dengan negara lain. Metode yang berhasil di negara lain, belum tentu di Indonesia. Penjelasan sederhana untuk mematahkan MMT adalah bahwa budaya korupsi dan law enforcement masih bagaikan kanker. Berapapun uang baru dicetak, belum tentu tepat sasaran, dikahawatirkan bahkan menambah pundi-pundi pihak tertentu saja. Negara ini sangat kaya dan tidak seharusnya mengalami krisis seperti ini, hasil alam melimpah dan uang negara menguap dan digrogoti oleh berbagai pihak. Saran saya Bossman pikirin cara untuk dapat menarik dana dari para koruptor yang masih berdiam di Indonesia dan bahkan yang sudah kabur. Jika Bossman dapat mempresentasikannya maka Bossman baru layak disebut pahlawan, tapi tunggu dulu dan jangan langsung minta dicalonkan presiden.

Penilaiaan saya terhadap Bossman Sontoloyo adalah bertolak belakang dengan followernya bahwa materi yang dibacakan adalah propoganda yang dirancang dengan rapi menguntungkan kelompok tertentu dan semakin berkembang wacana mencalonkan Bossman melihat banyaknya follower terhipnotis. Team kreatif berhasil menghipnotis follower dan yang mampu memoles Bossman seakan menjadi pahlawan, namun kurang jelas pahlawan untuk siapa ?. Jangan heran setelah covid-19 ini berakhir, ditengah kemiskinan dan pengangguran yang membengkak akan timbul pahlawan-pahlawan palsu dengan jargon menyelamatkan rakyat.

Harap berhati-hati yang perlu menjadi acuan adalah bagaimana untuk mengatasi masalah mendasar negara ini terkait “law enforecement dan menggilas korupsi” Seharusnya tidak perlu hutang, tidak perlu cetak uang, anggaran bisa surplus dan pertumbuhan ekonomi positip hanya dengan pengembalian uang negara dari para koruptor. Julukan pahlawan tidak perlu angkat bedil, musuh bersama bangsa ini adalah koruptor. Berhasil menggilas koruptor dan tidak korupsi adalah pahlawan bangsa. Bagaimana dengan penghianat ?. Penghianat adalah koruptor, tidak melawan koruptor dan pahlawan palsu.

Share :

Baca Juga

TOPAD

Selamat Idul Fitri 1441 H
Parluhutan (Topad), Pendiri Perkumpulan Aliansi Perduli Indonesia Jaya

TOPAD

Industri Padat Karya Memulihkan Resesi
Ketua Umum PUSATNUSA Topad. Foto/pri

TOPAD

Nang Gumalunsang Angka Laut
Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa.id

TOPAD

Menanti Perubahan
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Save By The Covid-19
Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Apakah Negara Paling Bahagia Ada di Negara Paling Religius?

TOPAD

Sistem Eprocurement Menyamarkan Penguapan Anggaran Ratusan Triliun Per Tahun
Almarhum Sahala Halomoan Manalu.

TOPAD

Pahlawan Tersembunyi