Home / TOPAD

Selasa, 18 Agustus 2020 - 09:19 WIB

Bajak Momentum Krisis!

Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan S. Foto/pribadi

Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan S. Foto/pribadi

MENCERMATI pidato kenegaraan 16 Agustus 2020, Presiden Jokowi dengan lugas memetakan masalah Bangsa ini, solusi dan kebijakan yang sudah dan akan ditempuh. Mampu merealisasikan isi pidato tersebut, bangsa ini berpeluang besar menjadi negara maju, makmur dan super power menggantikan posisi negara yang sudah lebih dulu menyandangnya.

Tunggu dulu, momen terbuka, semua negara dipaksa untuk kembali ke posisi yang hampir sama, berlomba untuk bangkit dari keterpurukan di segala bidang, namun jika melihat mental bangsa ini, pertanyaan patut dimunculkan, apakah bangsa ini sudah siap?

Bagi saya bagian yang paling menarik dari pidato tersebut adalah kutipan berikut ini, “Krisis memberikan momentum bagi kita untuk mengejar ketertinggalan, untuk melakukan lompatan transformasi besar, dengan melaksanakan strategi besar. Mari kita pecahkan masalah fundamental yang kita hadapi. Kita lakukan lompatan besar untuk kemajuan yang signifikan. Kita harus bajak momentum krisis ini. Kita harus serentak dan serempak memanfaatkan momentum ini. Menjadikan Indonesia setara dengan negara-negara maju. Menjadikan Indonesia maju yang kita cita-citakan.”

Ada tiga kata kunci untuk membuat Indonesia sebagai pemenang, yaitu masalah fundamental, transformasi besar, strategi besar.

Masalah fundamental

Masalah fundamental bangsa ini sebenarnya sangat sederhana, hanya saja sudah mengakar dan menjadi biasa. Padahal dampaknya ke segala sendi kehidupan sosial ekonomi, hukum, budaya bangsa ini. Paling dasar adalah perihal budaya taat yang turunannya adalah law enformance terkait hukum, pungli, monopoli, mark up terkait ekonomi, politisasi agama, SARA dan lain sebagainya. Banyak negara lebih unggul umumnya dapat kita lihat secara kasat mata, karena faktor ketaatan yang lebih baik.

Ambil contoh negara Vietnam yang sebelumnya tingkat kemajuannya jauh dibawah Indonesia, lihat perkembangan negara tersebut saat ini. Termasuk dalam penanganan covid-19, seharusnya penanganan covid-19 lebih mudah karena faktor negara ini beriklim tropis, dimana sinar matahari dan sirkulasi udara lebih baik. Namun karena faktor ketaatan, dapat kita lihat bagaimana Vietnam dan beberapa lainnya lebih unggul.

Transformasi besar

Transformasi besar difokuskan untuk merubah secara drastis dari tidak taat menjadi taat. Banyak upaya yang sudah dilakukan pemerintah, pembentukan mulai KPK, LKKP, Komisi Pengawas. Pengawasan berlapis di berbagai Lembaga bahkan terlihat tumpang tindih (BPK, BPKP, Inspektorat, SPI, Komisaris Independen, GCG dan lainnya).

Transformasi besar disini saya maknai, bahwa perlu menata ulang bentuk lembaga-lembaga yang pembetukannya mengutamakan dari peran, fungsi yang efektif dan juga kuliatas. Bukan dengan membentuk lembaga baru yang berlapis-lapis. Sebagai contoh, dengan menguatkan kualitas kepolusian, kejaksaan dan pengadilan, tidak perlu ada KPK.

Perlu keiklasan dari lembaga yang sudah ada namun harus dibubarkan atau digabungkan. Dan lembaga yang dipertahankan harus benar-benar diarahkan untuk dapat nenjalankan fungsinya sebagaimana mestinya tanpa ada intervensi.

Strategi besar

Setting ulang strategi baru setelah covid-19 berlalu. Dalam tulisan sebelumnya, secara menyeluruh semua lembaga membuat perencanaan dan pengawasan berbasis balance score card. Ada beberapa lembaga yang sudah mulai bahkan kementrian keuangan mendapatkan perhargaan. Masalahnya bukan sekedar ada, namun harus benar-benar diimplementasikan sepenuhnya. Tidak jauh dari isu agama dan pancasila saat ini dalam hal implementasi. Banyak oknum mengerti sedetail mungkin, namun belum tentu bisa taat.

Saya sangat mendorong agar semua lembaga negara menerapkan rencana pengawasan bebasis balance score card ini. Diawali dengan mengidentifikasi strategi yang akan dipilih menggunakan SWOT analysis, menetapkan strategy maps, kemudian menetapkan pengukuran berdasarkan empat prespective balance score card. Prespective tersebut dapat disesuaikan dengan wording yang tepat dengan pemerintahan, karena istilah yang digunakan mengacu ke prespective perusahaan oleh penemunya Robert Kaplan dan Norton dari Harvard Business School. Contohnya prospective pelanggan diganti dengan publik yang nota bene adalah rakyat.

Periode pengukuran dapat dilakukan bulanan, semester atau tahunan. Kembali ke titik permasalahan, dalam metode ini faktor pelakunya sangat menentukan.

Pada bagian akhir dari tulisan saya ini, saya mau tekankan bahwa faktor manusia memegang peran utama. Karena loncatan besar, tranformasi besar dan strategi besar akan sia-sia jika tidak diimplementasikan secara utuh. Penyakit besar dan fundamental dari bangsa ini adalah terkait ketaatan dan law enforecement.

Mari kita gunakan momentum ini dengan baik.

Share :

Baca Juga

Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Surat Terbuka Ke Rakyat, DPR dan Pemerintah

TOPAD

Korupsi Pengadaan Barang/Jasa Unggul dan Mempertanyakan Peran LKPP
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Jangan Menghakimi Supaya Tak Dihakimi

TOPAD

Korupsi Pengadaan dan Tanggungjawab LKPP
Parluhutan (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa).

TOPAD

Bersama Polri dan TNI Tindak Tegas Para Perusuh Bangsa
Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan S. Foto/pribadi

TOPAD

Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat
Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (PUSATNUSA) Parluhutan S. SE.Ak, M.Ak, CA, CMA atau Topad memberikan arahan kepada para relawan muda dalam mengembangkan sistem pasar digital untuk para pelaku Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM), di Gedung Gorga, Jakarta, Senin (3/8). (Foto: Radhea Heqamudisa/Beritanusa.id)

TOPAD

Langgengkan Persaudaraan, Leluhur Tersenyum
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa).

TOPAD

Warisan Yang Terabaikan?