Home / NASIONAL

Jumat, 15 Januari 2021 - 11:06 WIB

Bakamla Cegat Kapal China di Tengah Cuaca Buruk

Kapal Coast Guard Tiongkok-5302 memotong haluan KRI Usman Harun-359 saat melaksanakan patroli di area ZEE Indonesia di Perairan Natuna. Foto/Antara

Kapal Coast Guard Tiongkok-5302 memotong haluan KRI Usman Harun-359 saat melaksanakan patroli di area ZEE Indonesia di Perairan Natuna. Foto/Antara

JAKARTA, BERITANUSA.id – Badan Keamanan Laut (Bakamla) sempat hendak mencegat kapal survei asal China di perairan Indonesia, pada Rabu (13/1) malam. Namun, pemeriksaan terhadap kapal asing itu gagal dilakukan akibat cuaca buruk.

Kejadian ini bermula saat Pusat Komando dan Pengendalian (Puskodal) Bakamla mendeteksi objek mencurigakan di perairan Selat Sunda. Objek tersebut kemudian diidentifikasi sebagai research vessel Xiang Yang Hong 03 yang bendera China.

Kapal tersebut mematikan Automatic Identification System (AIS) sebanyak tiga kali saat melintasi Laut Natuna utara, Laut Natuna Selatan, dan Selat Karimata.

“Berdasarkan pantauan, kapal tersebut telah mematikan AIS sebanyak tiga kali selama melintasi Alur Laut Kepulauan Indonesia,” tulis Kabag Humas dan Protokol Bakamla Wisnu Pramandita dalam rilisnya, Kamis (14/1).

Automatic Identification System (AIS) merupakan sistem identifikasi otomatis yang bisa memantau semua informasi tentang kapal, mulai dari waktu, posisi, arah pergerakan, hingga kecepatan. Cara kerja sistem ini mirip dengan Flightradar24 pada transportasi penerbangan.

Saat dideteksi, kapal survei asal China itu tengah bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan 10,9 Knots.

Tindakan mematikan AIS ini dinilai mencurigakan dan melanggar Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 7 Tahun 2019 tentang Pemasangan dan Pengaktifan Sistem Identifikasi Otomatis.

Peraturan tersebut menyebutkan bahwa setiap kapal yang berlayar di perairan Indonesia, baik kapal lokal ataupun asing, wajib mengaktifkan sistem AIS.

Temuan ini kemudian dilaporkan kepada Direktur Operasi Laut Badan Keamanan Laut (Bakamla) Suwito.

Dia, yang saat itu tengah memimpin tim SAR dalam operasi pencarian korban kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 di Perairan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, memerintahkan komandan KN Pulau Nipah 321 Anto Hartanto untuk memeriksa objek tersebut.

KN Pulau Nipah lantas meluncur ke perairan Selat Sunda pada Rabu (13/1) pukul 09.30 WIB dan baru sampai pada pukul 13.40 WIB. Setibanya di lokasi, KN Pulau Nipah pn mendeteksi keberadaan kapal mencurigakan yang tengah melaju ke arah selatan dengan kecepatan 9 Knots dengan jarak 40 mil laut (Nm).

Armada tersebut lantas mengejar kapal asal China tersebut dengan kecepatan hingga 20 Knots. Kapal Bakamla baru berhasil mendekati objek pada pukul 20.00 WIB dengan jarak 10 Nm dan melakukan komunikasi menggunakan gelombang radio.

Dari komunikasi tersebut, KN Pulau Nipah mendapatkan informasi bahwa kapal survei tersebut memang berangkat dari China menuju perairan Samudera Hindia. Mereka berdalih sistem AIS mereka rusak sehingga sempat mati sebanyak tiga kali.

“Dari keterangan yang diberikan, penyebab tidak terdeteksinya AIS dalam tiga periode waktu disebabkan karena adanya kerusakan pada sistem tersebut,” tulis Wisnu.

Awak kapal Xiang Yang Hong 03 tersebut berdalih pihaknya menggunakan Hak Lintas Alur Kepulauan sebagaimana telah diatur dalam United Nations Convention on The Law of the Sea (UNCLOS). UNCLOS merupakan hukum laut internasional. Indonesia telah meratifikasi hukum ini pada tahun 1985.

Kapal Xiang Yang Hong 03 terus melintas hingga keluar dari Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) pada pukul 21.00 WIB. KN Pulau Nipah gagal mendapatkan informasi melalui dokumentasi dan pemeriksaan karena terhalang cuaca buruk.

“Dalam situasi ini, KN Pulau Nipah 321 tidak dapat melaksanakan dokumentasi dan pemeriksaan lebih lanjut dikarenakan cuaca buruk,” jelas Wisnu.

Setelah memantau Xiang Yang Hong 03 keluar dari perairan Indonesia, Kapal Bakamla ini kemudian berputar arah dan bergabung dengan tim gabungan dalam misi pencarian korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu.

(cnn/nas)

Share :

Baca Juga

Tenaga kesehatan tengah menyimpan data pasien Covid-19. Foto/Antara

NASIONAL

DPR Desak Pemerintah Tak Pangkas Insentif Nakes
Pangdam Jaya dan Kodam Jaya. Foto/Ist

NASIONAL

Tindakan Tegas TNI dan Polri Sudah Sesuai Konstitusi
Aparatur sipil negera tengah melakukan apel. Foto/Humas Kota Gunung Sitoli

NASIONAL

Tjahjo Kumolo Larang ASN Gabung ke Ormas Terlarang
Tim gabungan mencari korban tanah longsor di Sumedang. Foto/Basarnas

NASIONAL

36 Orang Tewas, 4 Hilang Korban Longsor Sumedang
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD. Foto/Ist

NASIONAL

SM Amin dan Soekanto Bakal Terima Gelar Pahlawan Nasional
Presiden RI Joko Widodo. Foto/BPMI Setpres

NASIONAL

RI Ajukan Diri Jadi Tuan Rumah Olimpiade 2032
Ilustrasi PLN. Foto/Ist

NASIONAL

PLN Beri Listrik Gratis untuk Bulan Agustus, Begini Caranya
Ilustrasi rekayasa lalu lintas. Foto: Ist

NASIONAL

Demo di Depan Kedubes Prancis, Polisi Terapkan Rekayasa Lalin