Home / TOPAD

Rabu, 22 April 2020 - 16:35 WIB

Bangkit! Lawan Krisis

Parluhutan (Topad), Pendiri Perkumpulan Aliansi Perduli Indonesia Jaya

Parluhutan (Topad), Pendiri Perkumpulan Aliansi Perduli Indonesia Jaya

Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa).

TREN perhatian pada covid-19 mulai bergeser, kini pembahasan lebih mengarah pada potensi krisis, saya sebut sebagai krisis beragam, krisis mengancam, krisis sudah terjadi dan krisis sudah dalam. Sangat dilematis memang, penanganan wabah covid-19 yang sudah menelan biaya besar adapun media pertanggungjawaban yang dipakai adalah Perpu Corona yang diserahkan ke Dewan Perwakilam Rakyat (DPR) namun dihadang banyak pendapat dan kritikan terkait pengunaan biaya dan pasal imunitas yang disisipkan dalam Perpu Corona.

Dalam tugas besar penanganan wabah corona yang pasti tidak mudah tersebut, Menteri Pembantu Presiden Ir. Joko Widodo, diantaranya Sri Mulyani, Luhut Binsar Panjaitan, Terawan Agus putranto dan yang lain seolah tiarap.

Sebahagian anggota DPR dan Menteri bukan menyatukan persepsi dan tindakan untuk mengatasi wabah corona, malah seolah menambah hangatnya situasi yang memang sudah hangat. Anggota DPR lontarkan kritik terhadap masalah darurat yang sudah terjadi, Mentri BUMN sibuk mengungkap mafia alat kesehatan yang bercokol dan issue mafia beras, namun tidak ada tindakan yang nyata.

Sorotan miring juga menghantam staff ahli Presiden yang berbisnis yang kemudian berdampak pada isu mengundurkan diri staff ahli yang berasal dari kalangan milenial tersebut.

Perlahan namun pasti kecemasan masyarakat mulai terkuak atas realisasi bantuan yang belum mencapai sasaran. Gelombang PHK bertambah, pengangguran bertambah, keamanan semakin mengkhawatirkan. Ditengah masalah yang bertumpuk, terdengar ada permintaan Jokowi turun, demikian juga suara untuk Sri Mulyani.

Atas berbagai masalah tersebut sangat dibutuhkan kematangan Presiden, dalam mengurai, memilih langkah cepat, cermat dan tepat untuk mengatasi situasi. Terlambat bertindak resiko besar menanti, perkiraan banyak ahli dan pengamat cukup mengerikan terhadap kelangsungan hidup Republik Indonesia dan saya harap jangan pernah terjadi.

Parahnya, ada dugaan pihak-pihak yang bertanggungjawab menginginkan kejatuhan RI agar dapat dikuasai sepenuhnya. Ingat krisis ekonomi tahun 1998, Usulan IMF membekukan bank, pemerintah mengelontorkan (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) BLBI sebesar Rp. 144,5 M dan pertanggungjawaban dari bank yang menerima belum tuntas, para pemilik bank banyak yang kabur. Dampaknya Kas Negara terkuras.

Saya khawatir, apabila Indonesia masuk dalam situasi krisis ada pihak yang tidak bertanggungjawab mengambil kesempatan. Mengingat, untuk penanganan covid-19 ada tambahan anggaran 2020 sebesar Rp 405,1 triliun untuk dana kesehatan, jaring pengaman sosial, insentif perpajakan dan stimulus kredit usaha rakyat dan program pemulihan ekonomi nasional.

Bapak Presiden, dalam situasi krisis seperti ini, Bapak harus berdiri tegak didepan memegang tongkat komando, memberi semangat dan memimpin semua elemen untuk bangkit menaklukkan kirisis yang sudah sangat membahayakan kelangsungan RI. Haluan ekonomi sudah seharusnya dirubah dan saat inilah kesempatan yang tepat.

Pendapat saya harus berani melakukan perubahan besar untuk mengumpulkan semua stakeholder yang ada di Negara ini (kabinet, DPR, lembaga, partai, ormas, dll), sampaikan kebijakan yang harus dilakukan secepatnya, misalnya percepatan covid-19, kebijakan ekonomi, sosial dan keamanan, dan tetapkan atau umumkan pejabat yang bertanggung jawab sebagai pelaksana. Buat batas waktu, monitoring dan pengawasannya.

Rubah haluan ekonomi, orientasi kebijakkan ekonomi adalah mengutamakan kemandirian, stop tambahan hutang luar negeri. Saldo per Maret 2020 sudah mencapai Rp 5.192,56 triliun. Ajukan permohonan untuk menunda pembayaran, misalnya setahun atau dua tahun ke depan. Stop import, boleh export hanya barang jadi. Stop pembangunan infrakstrukture baru, boleh melanjutkan penbangunan infrastruktur yang tinggal finishing saja, itupun setelah dana cukup, stop rencana pindah ibu kota. Stop mengeluarkan Recovery Bond yang mirip dengan BLBI. Perhatikan, apakah ada rakyat Indonesia yang buka Perusahaan di negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Cina? yang terjadi sebaliknya bukan?.

Kenapa kita tidak bisa memberlakukan hal yang sama? Lihat kembali Negara Cina dalam memajukan perekonomian, mendukung usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sampai ada bursa saham, khusus UMKM kenapa tidak bisa kita terapkan demikian? bukankah kebijakkan ekonomi kita juga mendorong untuk memajukan UMKM, bedanya Indonesia lebih banyak bicara perihal UMKM dari pada realisasi dukungan pengembangan UMKM tersebut. UMKM sangat cocok bagi Indonesia mulai dari Pusat, tingkat Provinsi, Kotamadya, Kabupaten, Kecamatan sampai ke Desa-desa. Perusahaan boleh didirikan oleh Pemerintah dan juga rakyat dengan dukungan dari Pemerintah mulai dari sektor pertanian, peternakan, perkebunan, pertambangan, perikanan, kerajinan, pabrik, dll. Demikian poin-poinnya, penjabarannya banyak ahli dan pakar berpengalaman.

Kunci utama mengatasi krisis ini adalah ekonomi dan perlu ada perubahan yang fundamental. Selama ini kebijakkan ekenomi adalah memberi karpet merah terhadap Investor Asing dan akan diulangi lagi dengan kebijakkan yang sama seperti krisis ekonomi tahun 1998. Untuk mendampingi Presiden memimpin perubahan haluan ekonomi dan membangkitkan ekonomi kerakyatan ini, Presiden perlu mencari sosok yang yang berani, memiliki nasionalisme yang tinggi, kompeten dan berwibawa.

Presiden juga harus berani merubah struktur Lembaga dan Kementerian yang kurang efektive dan tumpang tindih, ASN dan PNS harus dirampingkan dan kualitasnya ditingkatkan. Langkah terakhir adalah sosialisasi dan panggil semua lapisan dan unsur masyarakat agar memelihara kebersamaan, saling percaya dan gotong royong. Buang permusuhan, buang dendam, yang ada kepentingan bersama. Sampingkan dulu perdebatan Omnibus Law, Perpu Corona, wacana demo, dan hal remeh-temeh lainnya. Sayang dan mubajir waktu dan tenaga terbuang sia-sia, karena ada masalah yang lebih fundamental di bangsa ini, seperti uraian diatas. Opini sejenis dan saling melengkapi dapat dibaca pada opini saya sebelumnya dengan judul pekik 45, go to hell covid-19 and owner’s”, Lawan Takdir,

Bagi saudara yang memiliki pemahaman yang sama, mari kita satukan hati, bulatkan tekat untuk bisa lepas dari krisis ini, dan kita bangun kembali negeri ini. Yakin lah, kita akan selamat, Negeri ini masih bisa untuk menjadi macan Asia, bahkan negara super power di dunia ini.

Share :

Baca Juga

Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan S (Topad). Foto/Beritanusa

TOPAD

Uang Tidak Mengenal Saudara

TOPAD

Jangan Jatuhkan Kebesaran Bangso Batak Hanya Karena Masalah Kecil
Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com)

TOPAD

Benarkah Bencana Alam Tahun Ini Karena Tuhan Allah Murka?
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Jangan Menghakimi Supaya Tak Dihakimi
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Jadilah Pelayan Masyarakat yang Baik
Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Surat Terbuka Ke Rakyat, DPR dan Pemerintah
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Andai Manusia Taat ke Ajaran Sang Pencipta
Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa.id

TOPAD

Menanti Perubahan