Home / EKONOMI

Kamis, 26 November 2020 - 18:12 WIB

BI Yakin Ekonomi RI Mampu Tandingi China

Deretan gedung bertingkat tersamar polusi udara di kawasan Monas, Jakarta, Senin (29/7/2019). Foto/MI

Deretan gedung bertingkat tersamar polusi udara di kawasan Monas, Jakarta, Senin (29/7/2019). Foto/MI

JAKARTA, BERITANUSA.id – Bank Indonesia (BI) menyebut ekonomi RI sebetulnya mampu tumbuh di level 7 persen dan bersaing dengan China, Vietnam, dan India. Pasalnya, Indonesia punya potensi untuk tumbuh hampir 2 persen lagi dari capaian normal yang saat ini berada di kisaran 5 persen.

“Apakah mungkin Indonesia tumbuh seperti China, Vietnam, India yang pernah tumbuh sampai 7-8 persen? Kalau dikatakan mungkin, bisa. Kita pernah mengalami pertumbuhan tinggi, pertumbuhan kredit sampai 35 persen pernah,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Jatim Difi Ahmad Johansyah pada East Java Investival 2020, Kamis (26/11).

Namun, dia menilai Indonesia tak seperti ketiga negara tersebut yang mampu mencetak pertumbuhan tinggi dan mengendalikan faktor ekonomi makro mereka.

BACA JUGA:  Rencana Mobil Listrik Jadi Mobil Dinas Pemerintah

Dia bilang dengan pertumbuhan relatif tinggi, berbagai ‘penyakit’ juga akan mulai bermunculan karena Indonesia belum mampu mengendalikan defisit transaksi berjalan (current account deficit) dan laju inflasi.

Difi bilang kedua persoalan tersebut bakal mengganjal Indonesia untuk dapat mempertahankan pertumbuhan PDB tinggi.

Munculnya ‘penyakit’ ini dikatakan Difi berasal dari ketergantungan RI terhadap barang impor terutama di sektor elektronik, bahan kimia, dan makanan minuman (mamin).

Jika pertumbuhan ekonomi naik, Indonesia yang belum mampu memenuhi kebutuhannya sendiri pun otomatis akan memperlebar impor. Ini akan diikuti oleh inflasi atau naiknya harga produk.

Selama RI belum mampu menyeimbangkan laju impor-ekspor dan menekan inflasi, ia menilai pertumbuhan di atas 5 persen tak akan tahan lama.

BACA JUGA:  Survei BI: Inflasi November 2020 Naik 0,21 Persen

“Jadi saya katakan Indonesia mungkin tumbuh 7 persen tapi tidak akan tahan lama, mohon maaf saya sampaikan,” jelasnya.

Dia menganalogikan perekonomian Indonesia dengan mobil berkapasitas (cubical centimeter/CC) kecil karena belum landasan yang kuat. Jika dipaksa melaju cepat, yang ada malah tidak selamat.

“Oleh karena itu kalau kita mau lari kencang, harus tingkatkan CC ekonomi kita,” kata dia.

Salah satu hal yang dilihat Difi terus diusahakan pemerintah dalam mewujudkan landasan ekonomi yang tangguh adalah lewat pembangunan infrastruktur.

Pasalnya, infrastruktur tak hanya memperlancar masuknya investasi namun juga mobilitas manusia dan barang/jasa. “Itu lah perbaikan infrastruktur yang dilakukan untuk membuat landasan ekonomi kita kuat,” tutupnya.

(cnn/eko)

Share :

Baca Juga

Ilustrasi pabrik. Foto/Ist

EKONOMI

Rame-rame Pabrik Hengkang dari Karawang ke Jateng
Ilustrasi siswa SD Negeri Tugu Solo mengikuti kegiatan membaca koran bersama di halaman sekolah setempat, Solo, Jawa Tengah, Selasa (11/2/2020). Foto/Antara

EKONOMI

Pelajar yang Punya Rekening Bank Baru 49 Persen
Pelaku UMKM. Foto: Istimewa

EKONOMI

Survei: Hanya 47,13 Persen UMKM yang Bertahan saat Pandemi

EKONOMI

Pemerintah Ringankan Subsidi Bunga untuk UMKM
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar. Foto/Detik

EKONOMI

Mendes PTT Klaim UU Cipta Kerja Untungkan Desa
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah. Foto/Antara

EKONOMI

Kemnaker Cairkan BLT Subsidi Gaji ke 3,1 Juta Pekerja
Ekspresi keluarga korban saat berada di Posko Ciris Center Sriwijaya Air. Foto/Merdeka/Imam Buchori

EKONOMI

Deretan Santunan Korban Sriwijaya Air SJ 182
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Foto/MI

EKONOMI

Upah Mininum 2021 DIY Naik 3,24 Persen