Home / TOPAD

Sabtu, 26 Desember 2020 - 09:34 WIB

Buah Toleransi, Mengasyikkan

Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (PUSATNUSA) Parluhutan S. SE.Ak, M.Ak, CA, CMA atau Topad memberikan arahan kepada para relawan muda dalam mengembangkan sistem pasar digital untuk para pelaku Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM), di Gedung Gorga, Jakarta, Senin (3/8). (Foto: Radhea Heqamudisa/Beritanusa.id)

Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (PUSATNUSA) Parluhutan S. SE.Ak, M.Ak, CA, CMA atau Topad memberikan arahan kepada para relawan muda dalam mengembangkan sistem pasar digital untuk para pelaku Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM), di Gedung Gorga, Jakarta, Senin (3/8). (Foto: Radhea Heqamudisa/Beritanusa.id)

MENGAMATI pemberitaan di Televisi (TV), pada perayaan Natal 25 Desember 2020, mendorong saya untuk menulis topik toleransi, karena ada perbedaan yang menyolok untuk hal tertentu dibandingkan dengan acara peringatan keagamaan oleh satu kelompok, yang masih menyisakan persoalan hukum. Perbedaan tersebut kiranya dapat menjadi contoh nyata dan masih segar dalam ingatan, untuk menjadi salah satu momentum, memperingatkan semua lapisan masyarakat serta semua golongan agama bahwa: “Toleransi Membawa Nikmat, Intoleransi Menyakitkan.”

Beberapa stasiun TV yang sempat saya perhatikan, salah satunya tayangan CNN di program berita sore pada hari Natal kemarin, mengarahkan sorotan kamera terhadap barisan ormas pemeluk agama Islam, berseragam lengkap dengan atribut masing-masing, berdiri bersama polisi dan militer, aktif menjaga keamanan dan ketertiban di lokasi perayaan Natal, membuat rasa nyaman bagi umat Nasrani yang sedang merayakan Natal.

Kemudian, di Kompas TV diberitakan ada 5.000 personel GP Anshor turun hadir mengamankan perayaan Natal di Kalimantan. Senyum sumringah terpancar dari wajah umat yang merayakan, demikian juga ormas yang dengan sukarela menjaga ketertiban dan keamanan umat yang merayakan, datang dan kembali pulang dengan pancaran wajah yang sumringah pula. Pernyataan menyejukkan juga datang dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Nadirsyah Hosen (Gus Nadir), pakar hukum Islam, dosen di Monash University, narasumber dalam liputan TV tersebut, memaknai perbedaan “toleransi pada hal yang tidak sepakat, dan bekerja sama pada hal yang disepakati”. Kemudian terkait tema Natal tahun 2020, “Mereka akan Menamakannya Imanuel,” oleh Gus Nadir, diaminkan dengan mengutip hadis yang sama artinya dengan Immanuel. Artinya, Gus Nadir, ingin menonjolkan persamaan-persamaan yang ada, karena memang banyak titik temunya.

Pagi hari ini, ketika saya menyelesaikan tulisan ini, saya lihat bahwa Metro TV mengangkat topik toleransi, menjadi ulasan utama, dengan menghadirkan beberapa narasumber. Masih banyak hal yang sama, namun tidak terlihat atau tidak diliput pada beberapa stasiun TV yang ada, mungkin karena keterbatasan yang ada.

Sangat kontras dengan acara salah satu stasiun TV, yang sebelumnya selalu rutin menyelengarakan program acara diskusi memperdebatkan satu topik yang lagi hot, yang pada bagian akhir acara, tidak luput dengan kalimat “kami diskusikan, anda yang menyimpulkan”. Dari diskusi tersebut, yang digali dan dipertontonkan, cenderung condong ke poin perbedaan.

Indahnya persaudaraan, indahnya toleransi, yang terjaga dengan sikap toleransi terhadap perbedaan yang ada. Namun, terkadang sangat disayangkan kata-kata bijak, keinginan dari para tokoh Muslim, para cendikiawan Muslim yang kiprahnya telah diakui internasional, kadang digerogoti oleh sekelompok orang yang memeluk agama yang sama dari para tokoh dimaksud. Ada sebagian oknum atau kelompok yang diduga memanfaatkan politik identitas, ujaran kebencian, intoleransi beragama dan radikalisme agama hanya untuk mengejar tujuan terselubung yang ditutupi dengan memperlebar adanya celah perbedaan agama. Kelompok dimaksud, selalu mencari perbedaan, walau sekecil apapun, walau dengan perbedaan yang tidak terlalu prinsip atau substantif, dipaksakan agar ada celah untuk dijadikan dasar mengajak pengikut yang kemudian akan dibenturkan dengan saudaranya sendiri.

Salah satu contoh, terkait perayaan Natal, masih muncul isu larangan dari sekelompok umat Muslim tertentu untuk tidak mengucapkan “Selamat Natal.” Perbedaan yang masih ada pada saudara kita, di kalangan umat Muslim, adalah celah yang masih terbuka, untuk tetap dihembuskan, karena setiap tahun perayaan Natal ada. Dari segi persentase, kelompok ini jumlahnya sangat kecil dibandingkan dengan pemeluk agama Muslim di Indonesia. Namun entah kenapa, isu ini selalu terbuka untuk digunakan oleh oknum atau kelompok tersebut.

Ormas NU yang selalu terdepan untuk menutup celah ini, demikian juga ormas dari pemeluk agama Islam lainnya, atau non-Islam, kiranya isu ini segera dapat ditutup rapat. Kalaupun ada kelompok yang terlihat tidak terlalu fokus perihal isu ini, minimal tidak menyerukan tindakan sweeping, sebagaimana yang sudah pernah terjadi oleh oknum atau kelompok tertentu.

Pernyataan tokoh Muhammadiyah berikut ini, patut kita hargai, bentuk dari toleransi itu sendiri. Melalui Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menuturkan, ucapan Hari Natal kepada umat beragama yang merayakannya dikembalikan pada pilihan masing-masing Muslim. Dia mengakui ada perbedaan pendapat dalam Islam tentang pengucapan hari raya bagi pemeluk agama yang berbeda.

“Di dalam umat Islam sendiri ada pandangan yang berbeda. Sebagian membolehkan, sebagian melarang. Soal perbedaan pandangan ini tidak perlu dipertajam agar energi umat tidak terkuras membahas masalah khilafiah,” (dikutip dari Republika.co.id).

Memperkuat pendirian dan dapat menjadi referensi bagi seluruh umat, dalam memutuskan boleh tidaknya, perilaku atau pernyataan beberapa tokoh penting berikut ini mungkin bisa menjadi bahan acuan, bagi pihak yang memerlukan.

Dimulai dengan Video dari Presiden Joko Widodo bertuliskan Selamat Hari Natal, “Semoga kedamaian, keselamatan, dan keberkahan senantiasa mengiringi langkah kita semua.”

Selanjutnya, postingan dari PBNU, mengunggah sebuah poster berisi ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengucapkan selamat merayakan Natal dan Tahun Baru untuk saudara sekalian yang merayakan.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, dalam pidatonya, “Saudara sebangsa dan se-tanah air, khususnya umat Kristiani yang berbahagia. Natal tahun ini mengusung tema “Mereka akan Menamakannya Imanuel”. Melalui tema Natal ini kita diingatkan untuk menguatkan dukungan dan perhatian para tokoh, berikut ini akan saya tampilkan beberapa, antara lain bahwa penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa ada menaungi kita sekalian. Kita memiliki harapan dan pertolongan sekalipun berada di masa-masa sulit akibat pandemi Covid-19 ini.”

Terkait larangan dimaksud, Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum pernah mengeluarkan fatwa perihal boleh atau tidaknya seorang Muslim mengucapkan selamat Natal. Dan diharapkan juga agar tidak melakukan larangan tersebut dan dapat mengikuti jejak tokoh Muslim lainnya.

Lebih lanjut, berdasarkan kutipan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Gus Nadir, yang mengangkat tokoh Islam Internasional, Syekh Yusuf Qardhawi yang merupakan Ketua Persatuan Cendikiawan Muslim Internasional.

“Fatwa Syekh Yusuf Qardhawi membolehkan mengucapkan Selamat Natal kepada kerabat, kolega, dan tetangga. Ini termasuk perbuatan baik yang disenangi Allah, asalkan tidak mengikuti ritual ibadah mereka,” cuitnya melalui akun @na_dirs.

Syekh Ali Gomaa yang merupakan mantan mufti di Mesir. Menurut dia, dilandasi surat Al-Mumtahanah ayat 8 yang berbunyi, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.”

“Mengucapkan Natal itu perkara yang baik,” tambah Gus Nadir. Makanya saya kira tidak begitu (dengan mengucapkan Selamat Natal seorang Muslim menjadi syirik atau kafir),” tutupnya. (Dikutip dari kaltim.idntimes.com).

Kemudian, Prof. Dr. AG. H. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A. Alumni Universitas Al-Azhar, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ke-8, Menteri Agama Republik Indonesia ke-16.  Beliau berpendapat, tidak menjadi masalah ketika umat Islam mengucapkan Selamat Natal kepada umat Katholik dan Kristiani. “Islam mengagungkan Nabi Isa as karena membawa ajaran dari sumber yang sama dengan Nabi Muhammad saw, ajarannya juga sama yaitu kasih dan perdamaian. Sehingga kita (sebagai Muslim) sambut kelahirannya dengan bahagia,” beber Quraish. (Dikutip dari kaltim.idntimes.com).

Dengan demikian, berdasarkan sikap dan pernyataan para tokoh besar umat Muslim di atas, dan masih banyak deretan tokoh lainnya yang tidak disebut satu persatu dalam tulisan ini, sangat jelas bahwa larangan mengucapkan selamat Natal, kurang tepat, apalagi ada perintah sweeping dari kelompok tertentu, adalah bukan lagi isu agama, melainkan patut diduga sebagai tindakan politisasi agama, yang juga diduga untuk tujuan politik dan tujuan ekonomi. Di hari kemudian, bila masih terjadi tindakan pelarangan apalagi dalam bentuk sweeping, ini jelas pelanggaran dan dimungkinkan sebagai tindakan melawan hukum. Polri dan militer tidak perlu ragu untuk menindak kelompok demikian, karena rakyat ada di belakang Polri dan TNI melakukan tindakan tegas demi keamanan dan  keselamatan rakyat.

Mohon maaf, jika ada dari tulisan saya ini, yang terlihat seolah menyimpulkan, boleh diabaikan, karena kalau ada pendapat demikian, itu adalah kesimpulan sendiri yang menyimpulkan. Oleh sebab itu, menutup tulisan ini, penulis sudah menyajikan, saudara pembaca yang menyimpulkan. Salam persaudaraan.

Share :

Baca Juga

Foto: Pusatnusa

TOPAD

Hentikan Pencitraan
Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Apakah Negara Paling Bahagia Ada di Negara Paling Religius?
Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa.id

TOPAD

Menanti Perubahan

TOPAD

Selamat Natal 2020 dan Tahun Baru 2021
Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa.id

TOPAD

NKRI Harga Mati

TOPAD

Selamat Idul Fitri 1441 H
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa).

TOPAD

Warisan Yang Terabaikan?
Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan melantik sejumlah pengurus daerah. Foto: Beritanusa.id

TOPAD

Pidato Lengkap Ketua Umum PUSATNUSA saat HUT ke-75 RI