Home / TOPAD

Sabtu, 13 Februari 2021 - 13:38 WIB

Imlek Milik Siapa?

Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

Sudah 18 tahun sejak Keppres Nomor 19 Tahun 2002, perayaan Imlek yang dulunya di Tiongkok, negara asalnya, adalah sebuah budaya, pesta rakyat yang dirayakan menyambut datangnya musim semi oleh  penduduk Tionghoa, karena kehidupan akan bergeliat kembali, penduduk yang mayoritas petani, dapat memulai proses bercocok tanam. Sama dengan di negara ini, dulunya dikenal dengan masa paceklik dan masa panen yang perayaannya di masing-masing daerah, yang kebanyakan sudah punah, hanya daerah tertentu saja.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) ada 1.340 suku bangsa mendiami NKRI ini. Salah satu suku yang perayaan pesta tahun sejenis, suku Batak Karo di Sumatera Utara, perayaannya bisa lebih meriah dari Lebaran atau Natalan.

Situasi 18 tahun terakhir, dimana telah ditetapkan sebagai libur nasional, sangat kontras dengan masa 35 tahun silam, sebelum Inpres Nomor 14 Tahun 1967 dicabut, pembatasan dari pemerintah sangat ketat. Barongsai sekalipun tidak akan diperbolehkan melompat-lompat secara bebas diiringi musik khas dari negara asalnya.

Pesta rakyat yang telah menjadi libur nasional ini, seharusnya berlaku bagi 268 juta penduduk Indonesia, yang dulunya sempat dipertanyakan, disetarakan sama dengan libur Idul Fitri dan libur Natal. Perlu direnungkan kembali, keefektifan dan manfaatnya bagi seluruh bangsa ini, baik bagi yang merayakan, maupun yang tidak.

Milik Siapa?

Pertanyaan ini perlu ada jawaban yang tegas dan jelas karena konsekuensinya dapat menjadi krusial. Bayangkan sesama etnis yang asal usulnya dari negara pembawa perayaan budaya tersebut saja sudah beragam. Ketika ada penyampaian, ucapan Gong Xi Fa Cai ke dirinya, maaf saya tidak merayakaan, selidik punya selidik, umumnya mereka itu menganut agama Kristen dan Muslim.

Umumnya yang merespon balasannya dengan serius adalah saudara-saudara yang menganut Kong Hu Cu dan Budha. Jika sepakat ini adalah perayaan budaya, maka budaya siapa? Apalagi sudah ditetapkan libur nasional, tentu harus menjadi milik seluruh rakyat Indonesia dan 268 juta rakyat Indonesia juga harus merayakannya bersama.

Jika demikian, itupun belum selesai, banyak perayaan sejenis di berbagai daerah. Akan timbul pertanyaan, kenapa harus jauh-jauh dari Tiongkok, perayaan yang sejenis banyak dari daerah-daerah yang tepat dalam hal waktu dan budaya.
Jika ditetapkan menjadi hari besar keagamaan setara dengan Natal dan Idul Fitri, harus dipertegas aturannya terkait banyak hal, misalnya peraturan pembagian THR baik di swasta maupun negeri.

Merayakan Imlek

Jika perayaan ini adalah budaya, maka keistimewaan yang tidak sama dengan perayaan budaya sejenis yang terjaga, sebagian daerah tempat tinggal 1.340 suku bangsa ini, seharusnya  diimbangi dengan kontribusi yang istimewa, manfaat yang sebanding, ada manfaat yang dirasakan oleh seluruhnya, mengajak ke 268 juta rakyat turut mendapatkan Nian Gao, Hong Bao, Angpao atau tidak boleh lahir kesan adanya monopoli yang semakin menjadi-jadi, yang berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari.

Di tengah situasi dan dampak ekonomi yang semakin menekan, kondisi mayoritas 268 juta rakyat, sedang berjibaku dan sebagian besar lainnya ada yang hanya menunggu bansos atau hutangan, baru dapat melanjutkan kehidupannya.

Bila demikian adanya, apakah masih relevan dan pantas adanya ucapan-ucapan yang terpampang secara terbuka Xin Nian Kuai Le!, Gong Xi Fa Cai!, Shen Ti Jian Kang, Wan Shi Ru Yi, Hong Bao Na Lai, yang artinya terkait hal materi, yang disampaikan oleh mayoritas yang kondisinya sekarat terhadap segelintir kaum kaya, dengan ucapan semoga anda mencapai atau diberikan kemakmuran, keberuntungan, kekayaan, kedamaian, kesehatan dan lainnya? Yang makmur, bahagia, beruntung dan damai itu siapa?

Sebagian besar dari 268 juta rakyat tersebut, saat ini sedang kencang-kencangnya mengadu ke Tuhannya, untuk diberi pertolongan karena sudah sekarat, tidak memiliki apa-apa lagi untuk dimakan, selain mengharapkan turunnya bansos, hutangan dan mungkin belas kasihan saudaranya.

Selanjutnya, dalam doanya mereka juga mengadu ke Tuhan, bahwa yang tadinya mereka hanya sekedar buruh, supir dan kerjaan lainnya yang sifatnya membantu, kadang hanya dibayar di bawah UMR, itupun mereka di-PHK sejak pertengahan 2020, padahal kata bagian keuangan, bahwa perusahaan tempat kerjanya bekerja masih punya cadangan laba yang cukup besar yang diraih sebelum Covid-19 melanda negeri ini.

Jangankan memikirkan kelangsungan hidup karyawannya, karena ada celah yang dibuka, malah kemudian berlomba-lomba mengajukan penangguhan kredit yang jumlahnya bisa puluhan bahkan ratusan miliar Rupiah per perusahaan, yang membuat banyak manajemen bank sakit kepala. Dampaknya ke rakyat kecil juga, yang masih serius, semangat dan sungguh-sungguh berusaha agar tidak memutus karyawannya, hanya mengajukan pinjaman ratusan juta Rupiah, setelah mengikuti prosedur dan memenuhi berbagai dokumen yang menumpuk dan sangat rumit, katanya dalam rangka pengetatan dan kehati-hatian kebijakan dari manajemen atas.

Namun setelah menunggu berbulan-bulan, harus gigit jari, menerima surat ucapan terima kasih dari bank tersebut, karena sudah  mengajukan kredit, namun dibarengi ucapan mohon maaf karena belum dapat menyetujui pengajuan kredit dari pengusaha kecil tersebut. Untung karyawan dari perusahaan kecil tersebut, memaklumi kondisi itu, sehingga walapun gaji belum dibayar, perusahaan kecil tersebut masih bergeliat, semangat dan terlihat masih seperti biasa, sebelum Covid-19 melanda negeri ini.

Pemandangan yang sangat kontras terlihat di sebagian besar kantor besar, gedung mewah, tinggi dengan fasilitas yang super. Seolah gedung tidak terhuni lama, dengan status pajak menunggak, kredit bank direstuktur, padahal atas bisikan si manajer keuangan kepada staf yang kebetulan dari daerah yang sama, yang sudah di-PHK dari perusahaan tersebut, beberapa tahun lalu yang neraca keuangan perusahaan dimaksud bisiknya masih memiliki laba dan cadangan laba yang cukup besar, yang dihasilkan tahun sebelum Covid-19 melanda bangsa ini.

Lebih lanjut, dalam doanya si karyawan PHK tersebut mengadu ke Tuhan, berbisik pelan dan sambil meneteskan air mata, “Tuhan gimana sih, kok bisa ya, apakah berbeda Tuhannya? Tuhannya si Basardo, Serepdo,” kata teman satu kerja saya Nasrani, saya sendiri Prihatinto dan Gonyono sama-sama dari Jateng dan Muslim, dan kemudian yang punya perusahaan itu, satunya Budha, yang satu lagi Hindu, dan perusahaan tempat Istri saya, Kong Hu Cu.

Penulis coba mengutip referensi dari beberapa tokoh terkait pokok atau inti ajaran masing-masing agama, dan penulis hanya melihat titik persamaannya. Kong Hu Cu, intinya adalah kebajikan, mencintai sesama, kekeluargaan. Mengajarkan bagaimana harus bersikap terhadap satu sama lain. Mengajarkan orang bagaimana berperilaku dalam kehidupan pribadi serta aturan pemerintahan yang baik berdasarkan cinta, keadilan, rasa hormat, kebijaksanaan dan ketulusan.

Budha dirangkum dalam tiga ajaran pokok yaitu Buddha, dharma dan Sangha. Inti pokok dari semua agama, Hindu, Kong Hu Cu, Budha, Kristen dan Islam adalah hubungan vertikal antara manusia dengan Sang Khalik, Tuhan, Allah dan humanisme, hubungan horizontal antara sesama manusia.

Loh, sekarang dimana bedanya, semua sama. Sama-sama inti utama ajaran agamanya adalah terkait dua hal, yaitu pertama, bagaimana cara berhubungan vertikal ke Tuhan YME, yang nyatanya hanya beda cara saja. Kemudian kedua, bagaimana memperlakukan sesama manusia dengan kebaikan dan kasih. Hanya dibedakan oleh cara, daerah dan budaya saja.

Pertanyaan

Jika demikian adanya, maka melalui tulisan ini, penulis akan mengajukan beberapa pertanyaan kritis, kepada pemilik atau yang merayakan Imlek, dan diharapkan untuk dapat direnungkan bersama:

1. Masih sanggupkah saudara-saudaraku yang merayakan Imlek, untuk menerima ucapan kaya, makmur dan beruntung sendiri, di kala saudara-saudaramu yang lain, yang 268 juta itu, di PHK dan dibiarkan begitu saja?

2. Masih sanggupkah saudara-saudaraku, pemeluk Kong Hu Cu, merayakan Imlek, yang mengajarkan persaudaraan, mengasihi sesama, menoleh ke atas, memandang Tuhanmu? Di saat banyak manusia menderita karena PHK, dan mereka-mereka itu sudah lama mengabdi di group perusahaanmu yang besar dan mengurita itu?

3. Masih sanggupkah saudara-saudaraku, pemeluk Budha menoleh kehadapan Siddhartha Gautama, utusan Tuhan ke bumi ini, sama seperti Yesus bagi Kristen dan Nabi Muhammad SAW bagi Islam, yang sama-sama utusan Tuhan?

Ketika ada masalah, kondisi ekonomi memburuk, langsung PHK karyawan dan buruhmu, dan membiarkan para pembantumu itu yang sudah mengabdi tahunan bahkan mungkin puluhan tahun. Padahal selama puluhan tahun memperoleh laba, mereka tidak pernah menuntut lebih. Namun dengan hanya kurang dari setahun ekonomi terpuruk, lepas tangan, menyerahkan semua urusan, beban ke mereka sendiri dan juga ke pemerintah yang harus bertanggungjawab dengan rakyatnya.

Mau diapakan sih uangnya dan kekayaannya yang masih menumpuk itu? Takut amat hilang. Menunggu normal dan sehat kembali, ketika resikonya kecil, sehingga cuan bisa mengalir terus. Siddharta Gautama turun ke bumi, sama seperti Tuhan Yesus, menerima dan merasakan semua deritamu, sekarang di saat umatnya, sesama manusia sedang menderita, malah kamu berusaha bagaimana mengamankan tabungan, harta dan depositomu, menunggu aman dan kondusif kembali untuk berusaha?

4. Semua agama mengajarkan untuk mengasihi sesamanya, naik itu tumbuhan, hewan dan manusia. Bukan hanya sesama keluargamu satu suku,  kolegamu, bukan hanya satu agama, bukan juga hanya pejabat, tokoh atau orang besar yang dapat memberi kemudahan kepadamu. Tapi jelas yang dimaksud Tuhan adalah sesama manusia, gembel, pejabat, tokoh, mau dari suku dan agama manapun sama saja

5. Bagaimana mau Tuhan atau utusan Tuhan turun ke ke bumi ini, Yesus (Isa Almasih), Nabi Muhammad, Sidharta Gautama, para Dewa mau menerima, membantu dan simpatik lagi melihat saudara-saudaraku, yang duduk di meja dan datang ke rumah saudara, hanya keluarga dekat, yang sudah tiap hari bertemu dan berinteraksi, sementara seharusnya anda sanggup untuk mengundang 268 juta penduduk bangsa ini, untuk duduk satu meja menikmati hidangan perayaan Imlek saudara-saudaraku?

Hubungan ke Tuhan sangat berbeda, kita taat tidak hanya ketika senang, ketika kita susah, atau sesama sekeliling kita susah, harus tetap berhubungan baik ke Tuhan. Tidak karena hanya ada maunya saja, baru berhubungan.

6. Bagaimana pula dengan sesama suku dan agama lain, rela dan ikhlas mengasihi saudara-saudara, sedangkan Tuhanmu saja sudah tidak sudi, karena memandang saudara sesama yang susah saja, sesuai ajaran Tuhanmu untuk mengasihi sesama, tidak dijalankan.

Ekonomi susah sedikit saja, sudah main PHK.

Tuhan bersabda, bahwa mengasihi sesama, sama saja mengasihi Dia. Ada waktunya Tuhan murka, mungkin tidak pada masa kejayaan kakekmu, masa kejayaan bapakmu, atau masa kejayaanmu sendiri. Namun ingat, bisa saja Tuhan melaksanakan murkanya itu pada anakmu, cucumu atau generasi selanjutnya, penerusmu.

Ajaran Tuhan pasti, janji Tuhan pasti, tidak pakai bohong, tidak PHP. Pada waktunya, Dia pasti bertindak, melakukan murkanya, karena Tuhan itu adil adanya. Segera renungkan dan lakukan sebelum terlambat.

Mohon maaf, Penulis diminta berhenti menulis, karena Pimred Beritanusa.id, sudah telepon, mau segera tayang katanya dari meja redaksi. Dan penulis juga tersadar, sebenarnya titik berat tulisan ini dimana ya? Sudah menyentuh banyak hal.

Baik, Topad sudah menulis, giliran pembaca yang menyimpulkan, merenungkan dan sudah barang tentu harus berbuat.

Untuk berkarya, mengawal, merumuskan dan memberi masukan terhadap bangsa ini, mari bergabung ke perkumpulan pengusaha dan rakyat nusantara di situs www.pusatnusa.com.

Semangat persaudaraan, salam. Topad.

Share :

Baca Juga

TOPAD

Efektivitas Anggaran Inspektorat
Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan melantik sejumlah pengurus daerah. Foto: Beritanusa.id

TOPAD

Pidato Lengkap Ketua Umum PUSATNUSA saat HUT ke-75 RI
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Perwujudan ‘Polisi dan Indonesia Raya Terbarukan’
Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa.id

TOPAD

NKRI Harga Mati
Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan S. Foto/pribadi

TOPAD

Just Do It

TOPAD

Sistem Eprocurement Menyamarkan Penguapan Anggaran Ratusan Triliun Per Tahun
Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Corona B117 Muncul, Akankah Maret Mop Gantikan April Mop?
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa).

TOPAD

Warisan Yang Terabaikan?