Home / TOPAD

Rabu, 10 Maret 2021 - 23:18 WIB

Jokowi Pecat Pejabat Pertamina

Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa.id

Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa.id

Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com). 

MINGGU ini, media massa dipenuhi berita Presiden memecat pejabat tinggi di Pertamina, dengan alasan tidak patuh ke aturan TKDN.

Menarik perhatian dan seperti biasa, komentar berdatangan. Salah satunya komentar Menko Luhut yang dikenal lugas dan tegas. Menyampaikan beberapa poin penting, dikutip dari Kompas.com, 9 Maret 2021.

1. Pertamina itu ngawurnya minta ampun. Masih impor pipa padahal bisa dibuat di Indonesia. Bagaimana itu,”

2. Melacurkan profesionalismenya hanya sekedar gini (uang) saja.

3. Padahal kita punya BPPT, apa saja.

4. Pemecatan pejabat penting dilakukan agar tidak ada lagi yang bermain demi keuntungan pribadi.

5. Karena kalau tidak, kita ini semua beragama tapi pada hakekatnya kita mengkhianati apa yang kita yakini dengan berbohong, menipu, dan sebagainya.

6. Bertameng di belakang kesalehannya sesuai agamanya masing-masing. Padahal dia maling,” tandasnya.

Penulis cukup paham dan sependapat dengan beliau yang kebetulan memiliki nama yang sama, walau kemudian akrab dipanggil Topad, menandakan lebih muda, dan bukan Menko.

Komentar Penulis

Penulis sangat sependapat dengan kalimat di atas, dan tertarik untuk menambahkan dari perspektif yang berbeda, namun berdasar kalimat beliau di atas, yang secara urut demikian.

Poin kesatu, perihal komentar beliau terhadap Pertamina “ngawurnya minta ampun”. Dengan kondisi yang sama, penulis memiliki banyak temuan dan data di beberapa lembaga atau institusi yang tentu dapat dikatakan “NGAWURNYA MINTA AMPUN”. Oleh karenanya, wajar diperlakukan sama, yaitu patut dipecat. Bersiap-siaplah, bisa saja anda, saudara, sudah masuk dalam daftar antrian.

Poin nomor dua, perihal profesional yang statusnya pada strata yang tinggi, identik dengan busana, dasi dan jas yang bermerek. Pelacur identik dengan moral dan martabatnya direndahkan. Jika ditemukan profesional yang melacurkan profesinya demi uang, bersiaplah martabat anda direndahkan.

Perihal poin tiga, “padahal kita punya BPPT, apa saja”. Dugaan penulis perihal kata “apa saja ini”, mungkin saja, apa saja yang sudah dihasilkan atau atau apa saja yang sudah dikerjakan oleh BPPT? Sebagai lembaga negara, pertanggungjawabkanlah itu wahai BPPT, apa yang sudah kau perbuat, yang nyata dirasakan oleh rakyat? Di saat rakyat butuh inovasi yang dapat menjadi rujukan mengembangkan produk baru?

Beberapa anggota UMKM Pusatnusa berbisik, “…mubajir yo dana yang di BPPT itu, padahal sampeyan yang berlebal wong deso junto UMKM punya banyak temuan yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pokok bangsa ini. Kenapa tidak lirik wong deso ini yo? Dibuburkan aja toh, kok repot wae dan deretan komentar lainnya yang tidak kalah seru dan kalah bobotnya.”

Terkait poin empat, memecat perlu dilakukan. Penulis berpendapat keharusan. Pepatah kuno, potong ayam atau potong monyet di depan monyet. Artinya untuk memberi efek jera dan takut. Anjuran, himbauan, nasehat, peraturan, agama sudah tidak ditakuti. Yang lebih ditakutkan saat ini adalah dipecat dan dimiskinkan.

Satu orang belum cukup, idealnya minimal satu dari masing-masing. Tinggal menentukan dari masing-masing apanya? Institusi, unit, direktorat, divisi sampai bagian atau bidangkah?

Terkait poin lima dan poin enam, perihal bertameng di belakang kesalehannya sesuai dengan agama masing-masing, padahal maling. Kondisi tersebut adalah salah satu faktor utama yang membuat bangsa ini lambat majunya. Anehnya, negara ini menyandang predikat negara paling religius, yang diberikan oleh lembaga-lembaga survei Internasional. Sedangkan perilaku dan kehidupannya berbanding terbalik dengan negara yang dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia, namun urutan terbawah dalam hal peringkat negara religius. (Baca tulisan: Apakah Negara Paling Bahagia Ada di Negara Paling Religius?).

Masalah besar bangsa ini tidak terbatas dengan keenam poin di atas, namun jauh lebih banyak dari itu, dan sudah penulis sampaikan di beberapa judul tulisan sejak awal Covid-19 melanda bangsa ini, dilengkapi dengan pikiran penulis perihal usulan bagaimana mengatasinya atau solusinya. Jika tertarik dapat mengakses beritanusa.id/category/topad.

Share :

Baca Juga

Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan S. Foto/pribadi

TOPAD

Bajak Momentum Krisis!
Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (PUSATNUSA) Parluhutan S. SE.Ak, M.Ak, CA, CMA atau Topad memberikan arahan kepada para relawan muda dalam mengembangkan sistem pasar digital untuk para pelaku Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM), di Gedung Gorga, Jakarta, Senin (3/8). (Foto: Radhea Heqamudisa/Beritanusa.id)

TOPAD

Buah Toleransi, Mengasyikkan
Parluhutan (Topad), Pendiri Perkumpulan Aliansi Perduli Indonesia Jaya

TOPAD

Lawan Takdir

NUSANTARA

Walikota Baru Kota Cilegon Dilantik

TOPAD

Tindak Akuntan Publik Nakal Demi Integritas Akuntan Publik Nusantara (Bagian 2)
Parluhutan S (Topad), Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa

TOPAD

Estafet “Revolusi Mental” di Tangan Ephorus Terpilih HKBP

TOPAD

Berdayakan TVRI dan Telkom untuk Pendidikan Jarak Jauh, Bukan Priba
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Andai Manusia Taat ke Ajaran Sang Pencipta