Home / NASIONAL

Kamis, 28 Januari 2021 - 13:08 WIB

Kesadaran Warga, Alasan PPKM Lebih Longgar dari PSBB

Menko PMK Muhadjir Effendy. Foto/MI

Menko PMK Muhadjir Effendy. Foto/MI

JAKARTA, BERITANUSA.id – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy memaparkan alasan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa Bali tak seketat PSBB saat awal digelar pada April 2020.

Aturan PPKM yang dia akui sedikit lebih longgar ini lantaran pemerintah berasumsi masyarakat telah memiliki kesadaran sendiri terkait protokol kesehatan.

“PPKM ini kita berlakukan agak lebih ringan dibanding April itu dengan asumsi tingkat kesadaran masyarakat itu sudah terbangun lebih baik dibanding April (2020),” kata Muhadjir melalui tayangan video yang telah diberi izin untuk dikutip, Rabu (27/1).

Namun melihat tingkat penularan saat ini Muhadjir mengaku PPKM Jawa Bali yang saat ini kembali diterapkan setelah periode pertama berakhir 25 Januari kemarin itu akan segera dievaluasi.

Kata dia, tak menutup kemungkinan pendekatan-pendekatan koersi atau pendekatan ‘paksaan’ akan kembali diterapkan.

“Nanti akan kita evaluasi seksama kalau memang masih perlu, dibutuhkan lagi pendekatan koersi pada waktu awal, kalau perlu ditingkatkan lagi nanti akan kita lakukan,” kata dia.

Kesadaran Masyarakat

Dalam kesempatan itu, Mantan Menteri Pendidikan ini menyebut pendekatan apapun yang dilakukan pemerintah yang paling utama mesti dilakukan adalah mengetuk kesadaran masyarakat akan bahaya Covid-19 ini.

Menurut dia, jika terus menerus pendekatan koersi atau struktural diterapkan pemerintah tentu masyarakat pun akan lelah dan akan timbul perlawanan.

“Kita tidak mungkin kerahkan petugas terus untuk memelototi orang, ini tidak mungkin. Mestinya yang melototi itu ya dirinya sendiri, kesadaran,” katanya.

Diakui Muhadjir rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terkait Covid-19 ini juga lantaran edukasi yang memang belum benar-benar menyentuh tingkat kesadaran warga. Selain itu rasa bosan dan lelah juga menjadi pendorong banyaknya protokol kesehatan yang dilanggar.

“Dan kedua juga mungkin ada faktor kelelahan, kebosanan dan yang ketiga mungkin ada faktor over ekspektasi terutama dengan datangnya vaksin,” kata dia.

“Karena itu saya betul-betul imbau kepada masyarakat jangan terlalu over ekspektasi, berharap yang berlebihan dengan vaksin, karena perjalanannya masih panjang karena itu tetap harus disiplin patuhi prokes itu,” jelasnya.

(cnn/nas)

Share :

Baca Juga

Tenaga kesehatan tengah menyimpan data pasien Covid-19. Foto/Antara

NASIONAL

Update Corona 13 Januari: Tambah 11.278, Positif 858.043
Ilustrasi duka cita. Foto/Shutter Stock

NASIONAL

Eks Mendagri Syarwan Hamid Meninggal Dunia
Gedung perkantoran di DKI Jakarta. Foto/ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

NASIONAL

Anies Perpanjang PSBB Transisi DKI hingga 6 Desember
Mendikbud Nadiem Makarim. Foto/Antara

NASIONAL

Tiga Menteri Terbitkan SKB Soal Seragam dan Atribut Sekolah
Petugas Dinas Sumber Daya Air menggunakan alat berat untuk mengeruk sampah bercampur lumpur di aliran Banjir Kanal Barat, Jakarta, Senin. Foto/Antara

NASIONAL

DKI Siapkan 5.000 Drainase Vertikal Antisipasi Banjir
Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah. Foto/MI/Lina Herlina

NASIONAL

Gubernur Sulsel Protes China Soal Seaglider
Petugas mengevakuasi kendaraan minibus yang terlibat kecelakaan di Tol Cipali, Senin pagi (10/8) lalu. Foto ilustrasi/Radar Cirebon

NASIONAL

Kecelakaan di KM 77 Tol Cipali Akibatkan 10 Orang Meninggal
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD. Foto/Ist

NASIONAL

SM Amin dan Soekanto Bakal Terima Gelar Pahlawan Nasional