Home / NASIONAL

Senin, 25 Januari 2021 - 11:03 WIB

Listyo Sigit, Teguh Pegang Prinsip Sedari Remaja

Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo. Foto/MI

Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo. Foto/MI

JAKARTA, BERITANUSA.id – Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo tinggal selangkah lagi menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang baru.
Ada kisah tentang Listyo yang belum banyak diungkap. Terutama ketika dirinya menolak diajak bolos saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA.

Kisah itu diungkapkan Dyastriningrum Subandiati, teman sekelas Listyo di SMA 8 Yogyakarta. Dyas kini tengah menempuh program doktoral Kajian India-Asia Tenggara (Hankuk University of Foreign Studies) dan Bahasa Sastra Korea (Pukyong National University) Korea Selatan.

Menurutnya, Listyo yang akrab disapa Sigit di SMA sudah terlihat sebagai orang yang teguh memegang prinsip sejak remaja.

Dyas bercerita bahwa Listyo tidak mau diajak bekerja sama dalam berbuat keburukan. Dia, katanya, juga lebih suka berencana dan bekerja dalam diam karena tak mau menonjolkan diri.

Dirinya mengetahui hal itu karena duduk di depan Sigit di kelas 2 dan kelas 3 pada Jurusan Fisika.

“Pak Sigit (Listyo) tak mau diajak bolos. Ketika itu ada ulang tahun seorang teman sekelas. Kami kompak bolos sekelas untuk merayakan ulang tahun teman di lapangan tenis,” kata Dyas menceritakan.

“Saya ajak Pak Sigit ke acara ulang tahun itu. Beliau hanya menggelengkan kepala. Satu kelas bolos kecuali tiga orang, termasuk Pak Sigit,” tambahnya.

Contoh lain dari prinsip baik yang dipegang Listyo, kata Dyas, yaitu tak mau memberikan sontekan ketika diminta oleh teman-temannya. Sigit bahkan memarahi teman yang meminta sontekan.

“Pak Sigit punya prinsip jujur dan disiplin sejak SMA. Beliau tidak mau diajak kompak berbuat tidak jujur, seperti bolos bareng sekelas dan memberikan sontekan,” ucap Dyas.

Dyas juga memperhatikan bahwa Listyo tak pernah mau menonjolkan diri sewaktu SMA. Menurutnya, Listyo selalu punya rencana dan bekerja dalam senyap, yang sering kali terwujud.

Ketika Listyo menangkap Djoko Tjandra secara diam-diam beberapa waktu yang lalu, Dyas teringat prinsip Listyo yang punya rencana dan bekerja dalam senyap itu.

“Sepertinya strategi berencana dan bekerja dalam senyap itu dipakai Pak Sigit hingga sekarang, seperti menangkap Djoko Tjandra yang dilakukan diam-diam dan berhasil itu,” kata Dyas yang saat ini tinggal di Seoul, Korea Selatan.

Dyas bercerita bahwa Sigit seperti sudah punya rencana untuk menjadi aparat negara sejak SMA. Pertama, Listyo mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dan beladiri ketika SMA. Kedua, Sigit pernah mengutarakan keinginannya masuk Taruna.

“Saya masih ingat kalimat terakhir Pak Sigit saat lulus SMA, ‘Yas, saya juga nanti bisa jadi Taruna seperti pacar kamu.’ Dulu pacar saya Taruna Akabri,” kata Dyas.

“Ternyata janji beliau benar. Beliau menjadi Taruna Akpol. Saya teringat kembali kalimat Pak Sigit itu ketika mendengar Ketua DPR mengumumkan calon Kapolri adalah Pak Sigit,” sambungnya.

Meski sudah memiliki jabatan tinggi di Polri, Listyo tak pernah sombong. Ia tak lupa akan teman-teman SMA-nya. Begitulah kesaksian Dyas.

Dia pun sudah menduga Listyo bakal mencapai puncak karir di Polri. Terutama ketika kawannya itu menangkap Djoko Tjandra di Singapura. Namun, kala itu Listyo masih merendah dan hanya ingin bekerja keras tanpa ada ekspektasi mengejar jabatan.

“Begitu diumumkan DPR, saya senang teman sekelas saya jadi orang nomor satu di Polri. Orang pendiam dan sederhana begitu bisa sesukses itu. Saya terharu sekaligus bangga,” tutur Dyas.

Dyas berpikir bahwa sudah saatnya bangsa Indonesia tidak mementingkan identitas. Dalam hal ini identitas agama karena Listyo beragama Protestan.

Perihal hubungan dengan teman-teman muslim ketika SMA, Dyas mengatakan bahwa Listyo tak pernah membeda-bedakan orang dalam berteman, seperti membedakan latar belakang agama. Dyas pun pernah diingatkan agar salat tepat waktu.

“Beliau membantu pondok pengobatan pencandu narkoba dan orang dengan gangguan jiwa di Yogyakarta yang berbasiskan zikir. Kebetulan tempat itu dikelola oleh teman SMA juga. Pondok itu sangat islami,” kata Dyas.

(cnn/nas)

Share :

Baca Juga

Ilustrasi--Masa PSBB di DKI Jakarta. Foto/Antara

NASIONAL

Update Corona 23 Februari: Tambah 9.775, Positif 1.298.608

NASIONAL

Sektor Pendidikan Tak Tersentuh Anggaran Covid-19
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Foto/Antara

KESEHATAN

Pemerintah Undur Vaksinasi Covid pada Desember 2020
Warga menjalani swab test di GSI Laboratorium, Cilandak, Jakarta. Foto/Antara

NASIONAL

Update Corona 15 Januari: Tambah 12.818, Positif 882.418
Sejumlah petugas kepolisian ketika mengamankan aksi unjuk rasa menolak UU Omnibus Law di Medan, Kamis (8/10). Foto/Indozone.id/Raden Armand

NASIONAL

Ribuan Personel Gabungan Amankan Demo Buruh dan FPI di Jakarta
Suasana sidang di Mahkamah Konstitusi, Rabu (19/6). Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A

NASIONAL

MK Gelar Sidang Gugatan UU Ciptaker Hari Ini
Gaji uang Rupiah. Foto/Ist

NASIONAL

Program BLT Pekerja Berlanjut hingga 2021
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono. Foto/Polri

NASIONAL

Polri Ultimatum Kapolda Tak Tegas Soal Prokes