Home / TOPAD

Minggu, 27 Desember 2020 - 10:32 WIB

Menanti Vaksin Covid-19

Parluhutan (Topad),Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa

Parluhutan (Topad),Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa

PEMERINTAH sudah melakukan pemesanan vaksin Covid-19 dengan jumlah 155 juta (dosis) dari kebutuhan 246 juta (dosis); 125 juta vaksin Sinovac buatan China, dan 30 juta vaksin Novavax buatan Amerika Serikat (AS) yang diproyeksikan tiba secara bertahap dan selesai di Januari 2022. (sumber Kompas.com). Lebih lanjut, 30 juta dosis sudah tiba di Indonesia, tinggal menunggu izin edar dari BPOM, diprediksi akan diedarkan ke masyarakat pada Februari 2021.

Tidak mau tertinggal, Indonesia juga sedang mengembangkan produksi dalam negeri, dengan nama vaksin Merah Putih dan vaksin GX-19, yang diharapkan tahun depan sudah berproduksi.

Pada kuartal pertama, saat pemberitaan Covid- 19 belum segencar kuartal-II, III dan IV saat ini, sudah puluhan judul tulisan dari penulis terbit yang mengangkat aneka ragam masalah bangsa berikut problem solving sebatas yang penulis kuasai, dan sebagian mengulas Covid-19 beserta dampaknya.

Dari sekian problem solving yang penulis sampaikan, jika diperhatikan selalu terbentur pada bagian implementasi, yaitu perilaku dari manusianya, yang tidak lain masyarakat itu sendiri. Termasuk beberapa tulisan terkait dengan masalah Covid-19 dan dampaknya yang telah menambah tumpukan beban baru.

Dalam tulisan tersebut, keyakinan penulis masih sangat besar bahwa penanggulangan Covid-19 bisa berhasil dengan kebijakan sosial distance, dan agar ekonomi tetap dapat berjalan. Penulis masih cukup optimis, dengan program penggalakkan ekonomi kerakyatan, UMKM, PEN dan program pemerintah lainnya.

Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa) juga turut ambil bagian, denganĀ  meluncurkan situs www.pusatnusa.com, yakni sistem digitalisasi terintegrasi, yang menghubungkan semua unsur masyarakat dan pelaku UMKM di seluruh nusantara untuk dapat tumbuh berkembang menjadi pelaku utama ekonomi bangsa ini, sekaligus merancang transaksi ekonomi yang membatasi adanya kontak langsung pelakunya, untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Namun, keberadaan Covid-19 akan genap setahun (merujuk tanggalan WHO, 31 Desember 2020), sebut saja berulang tahun ke-1. Namun penyebarannya dan korban terpapar masih tetap tinggi, bahkan diperkirakan akan meningkat di awal tahun 2021, sebagai dampak libur panjang Natal dan Tahun Baru, akibat kerumunan dan kedisiplinan yang selalu menjadi masalah besar bangsa ini.

Setahun berjalan, kebijakan demi kebijakan sudah dibuat untuk menghentikan penyebaran Covid-19, diikuti dengan kebijakan ekonomi berupa bansos dan bantuan ekonomi agar perusahaan bertahan hidup, dan tetap beroperasi, masyarakat tidak kelaparan, serta masih mampu bertahan hidup.

Kebijakan social distance (jaga jarak), dan diikuti dengan munculnya kebiasaan baru, masyarakat sudah tidak awam dengan digitalisasi, daring, virtual, online shop, marketplace, e-commerce, webinar, zoom dan produk teknologi lainnya.

Pelajaran penting yang penulis bisa dapatkan dari situasi baru ini, adalah keberhasilan suatu negara memerangi masalah Covid-19, adalah bagaimana suatu negara memastikan rakyatnya disiplin, patuh menjalankan kebijakan jaga jarak, memutus rantai penyebaran Covid-19 dimaksud, sambil menunggu vaksin Covid-19, yang diharapkan dapat mematikan virus Covid-19 di dalam tubuh, atau tubuh menjadi kebal, tidak mempan untuk ditulari covid-19.

Kemudian untuk memastikan bahwa kegiatan tetap bergeliat, ekonomi tetap bergerak dengan cara mengoptimalkan penggunaan digitalisasi di semua jenis kegiatan, kreatif, inovatif dan adaptif terhadap perubahan tetap berproduksi dan peran rakyat semakin menonjol dalam kegiatan ekonomi kerakyatan.

Tinggal 4 hari lagi, setahun masyarakat Indonesia dan dunia dihadapkan dengan ancaman Covid-19, dan ditambah tekanan sosial ekonomi, sebagai dampak Covid-19, namun perilaku masyarakat terhadap Covid-19, masih belum berpengaruh terhadap perubahan yang signifikan, sejak awal masih konsisten di masing-masing pendiriannya. Seolah mengikuti pendirian Covid-19, yang konsisten dengan sifatnya untuk selalu menyebar, tanpa membedakan status, agama, suku, golongan, waktu dan tempat.

Diimbangi dengan manusianya, sasaran Covid-19, masih tetap konsisten dengan perilaku yang selama ini menjadi bagian penting dari masalah utama bangsa ini, yang oleh Bung Karno, dengan sebutan character building. Di era sekarang pernah diangkat dengan sebutan program revolusi mental, ada juga yang ikut-ikutan dengan revolusi ahlak.

Bukan hanya dalam konteks memerangi Covid-19, penanganan masalah di luar Covid-19, pada bagian penyelesaian akhir selalu terbentur dengan hambatan sikap konsistensi atas perilaku penghambat yang sudah melekat lama tersebut.

Untuk pembahasan selanjutnya, perilaku ini penulis singkat dengan sebutan “LAKU” negatif akibat lalai atau abai atas nilai-nilai positif, sehingga menjadi terbalik, yang melekat adalah yang negatif, berikut meliputi ketaatan (compliance), low enforcement, tingkat disiplin, kejujuran, kerja keras, mental dan nilai positif budaya lokal atau kearifan lokal yang pernah ada, amalan nilai ajaran agama yang dianut, dan perilaku negatif lainnya, semua digabungkan saja dengan sebutan “LAKU”.

Pada bagian akhir, bagian puncak dari semua tulisan yang pernah terbit selama masa Covid-19, awal April 2020, penulis akan membawa topik tulisan ini ke arah religius, kepercayaan dan ke arah spiritual kita yang paling dalam, yang menurut keyakinan penulis, menjadi puncak klimaks dari masalah berat yang bertubi-tubi datang menggempur dan mengepung kehidupan umat manusia, namun belum membuat manusia tersebut untuk sadar, masih tetap konsisten pada “LAKU” masing-masing yang sudah lama melekat, dinikmati dan membuat nyaman selama ini.

Tidak berlebihan, bila diizinkan, bagian akhir tulisan ini adalah titipan dari Atas, dari Sang Pencipta, Tuhan kita, sebagai hadiah peringatan bagi anak-Nya yang turun ke bumi menjadi manusia, yang memiliki sebutan beragam, sebutan Yesus Kristus, dan bagi saudara kita pemeluk agama lainnya, menamainya, dengan sebutan Nabi. Tulisan ini bukan saja diperuntukkan hanya bagi umat Kristiani, namun jika berkenan, untuk seluruh masyarakat Indonesia, semua golongan agama, bahkan mungkin untuk dunia ini.

Poin yang mau disampaikan adalah:

1. Manusia tidak dapat hidup sendiri-sendiri, harus berkelompok. Perbedaan adalah bagian dari ciptaan Tuhan, dan penulis sudah membuat tulisan yang juga terbit hari ini, yang secara khusus membahas poin ini, dengan judul: Buah Toleransi, Mengasikkan.

2. Masalah yang muncul pada kehidupan berbangsa dan bernegara adalah buatan manusia itu sendiri. Perkembangan teknologi dan peradaban buatan manusia, sekaligus memunculkan masalah sosial budaya, yang penulis sebut “LAKU”, namun sangat disayangkan masalah “LAKU” ini tidak segera diatasi atau dihilangkan, namun dibiarkan tumbuh berkembang seiring dengan perkembangan teknologi dan peradaban manusia tersebut. Yang ada adalah tumpukan demi tumpukan yang semakin bertambah.

3. LAKU ini berkembang dan saling memberi pengaruh, antar-satu individu dengan individu, antar-kelompok, antar-negara, dan seiring perkembangan teknologi, perkembangan “LAKU” ini juga semakin cepat, karena melompat dari satu negara ke negara lainnya dipermudah.

Sayangnya pertumbuhan “LAKU” yang negatif, dari berbagai individu, baik lokal maupun dari luar negeri, yang unggul LAKU negatif, karena memang kenikmatan dunia lebih besar dari “LAKU” negatif. Dengan perkembangan teknologi, bukan hanya bangsa ini yang menerima pengaruh, namun bangsa lain juga ada yang meniru laku dari bangsa ini.

4. Bila “LAKU” ini dibiarkan terus berkembang, maka tidak tertutup kemungkinan, manusia akan menghabiskan kehidupannya untuk caruk maruk antar-teman, antar-kelompok, antar-negara, antar-bangsa.

Tanda-tanda ini sudah terjadi, masih segar dalam ingatan kita, sebelum Covid-19 datang menyasar dunia, konflik di sana-sini terjadi, bahkan ada yang menduga akan segera terjadi perang dunia ketiga. Namun genjatan senjata seolah terjadi, dengan kehadiran Covid-19. Negara dibuat lemah, dan perhatian dialihkan untuk memerangi Covid-19.

5. Selaku umat beragama, menyakini bahwa alam semesta dan segala isinya adalah ciptaan Tuhan. Dengan demikian, Covid-19 adalah ciptaan Tuhan. Walau sebelumnya ada perdebatan dan dituduhkan negara China, Wuhan, sebagai awal Covid-19, namun jika itu benar, maka hal tersebut dapat kita yakini sebagai karya Tuhan. Karena sampai saat ini belum terlalu jelas dan tuntas, saling mematahkan argumen masing-masing. Walau kedua negara yang bertikai tersebut adalah negara besar, negara super power.

Rencana manusia atau negara sebesar dan sekuat apapun dengan mudah diketahui oleh Tuhan, karena diyakini Tuhan Maha Tahu, raja atas ciptaannya. Jangan ada yang berkeinginan untuk menjadi raja di dunia, walau sudah ada negara yang mampu menciptakan matahari, menyerupai kemampuan Tuhan, itu dibiarkan oleh Tuhan, namun jangan harap akan dapat berfungsi sesempurna ciptaan-Nya.

6. Tuhan dikenal Maha Pengampun dan Maha Pengasih, sehingga untuk memperingatkan manusia, dihadirkan Covid-19. Virus Covid-19 yang lebih lunak, manusia masih diberi kesempatan hidup, namun harus merubah LAKU, mematikan LAKU lama, lahir LAKU baru ke arah yang Tuhan yang dikehendaki.

7. Pesan tersebut ditunjukkan dengan kenyataan yang dihadapi oleh manusia setahun penuh, tahun 2020. LAKU yang tidak dikehendaki tersebut, diciptakan Tuhan, Covid-19 sebagai perumpamaan. Karena Tuhan mengetahui bahwa sudah sejak dulu, manusia percaya kalau dibarengi dengan bukti. Ada bukti kongkrit di depan mata manusia tersebut. Sudah ada contoh yang menggambarkan perihal tersebut, yaitu peristiwa Nabi Nuh.

Melalui kehadiran Covid-19, Tuhan bermaksud untuk meninggalkan pesan bahwa untuk dapat berkembang, hidup rukun dan damai, masalah apapun yang lahir atau diciptakan oleh manusia itu sendiri, tidak boleh diabaikan, dibiarkan, karena masalah tersebut tidak akan hilang, yang ada adalah tumpukan yang semakin besar dan semakin berdampak buruk dan semakin memberatkan, dan pada titik tertentu, akan menenggelamkan manusia, saling cakar, perang dan saling mematikan.

Untuk memudahkan, ada pepatah lama, “Tangan mencincang, bahu memikul”. Dalam agama tertentu, dinamai karma. Berbuat baik, kebaikan balasnya. Dan banyak perumpamaan lainnya, atau ajaran agama, yang telah menggambarkan poin ini.

8. Berkesempatan hidup kemudian, maka solusinya adalah mematikan Covid-19, dengan kehadiran vaksin Covid-19. Manusia masih diberi kesempatan hidup dengan perkembangan teknologi yang diciptakan manusia tersebut, yaitu memproduksi vaksin Covid-19.

9. Selamat menantikan kehadiran vaksin Covid-19, semoga efektif dan berhasil menyelamatkan kehidupan umat manusia.

10. Setelah vaksin Covid-19 nantinya berhasil menyelamatkan bangsa ini, dan dunia ini, jika saudara, saya dan banyak saudara lainnya, harapan kita, tentu semua pihak berharap demikian. Petunjuk mulia yang dihadirkan Tuhan melalui Covid-19 ini, nantinya jangan disia-siakan dan diabaikan. Gunakan menjadi momentum perubahan.

Masalah LAKU yang semakin menumpuk dari masa ke masa, yang selalu menghambat dan menggagalkan setiap langkah dan program NKRI menuju negara maju, adil dan makmur, tidak ada pilihan lain selain mematikan virus-LAKU tersebut, dengan vaksin virus-LAKU.

Tuhan berpesan, matikan virus LAKU negatif tersebut dengan menemukan vaksin virus-LAKU, kemudian lahir LAKU terbarukan melekat di dalam jiwa dan pikiran terbarukan manusia, yang dikehendaki Tuhan, maka negara maju, adil dan makmur akan hadir. Kira-kira demikian pesan yang ingin disampaikan oleh Tuhan.

Kembali penulis sampaikan, penulis yang menguraikan, pembaca yang menyimpulkan dan yang mengimplementasikan. Tulisan ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa, semoga bermanfaat untuk kita semua. Salam Persaudaraan.

Share :

Baca Juga

Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (PUSATNUSA) Parluhutan S. SE.Ak, M.Ak, CA, CMA atau Topad memberikan arahan kepada para relawan muda dalam mengembangkan sistem pasar digital untuk para pelaku Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM), di Gedung Gorga, Jakarta, Senin (3/8). (Foto: Radhea Heqamudisa/Beritanusa.id)

TOPAD

Langgengkan Persaudaraan, Leluhur Tersenyum

NUSANTARA

Walikota Baru Kota Cilegon Dilantik

TOPAD

Sorot Tajam Kinerja PT ASDP dan Menanti Gebrakan Menteri BUMN
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Imlek Milik Siapa?
Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan S. Foto/pribadi

TOPAD

Bajak Momentum Krisis!
Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan S. Foto/pribadi

TOPAD

Just Do It
Parluhutan S (Topad), Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa

TOPAD

Sampai Kapan Corona Mengancam?
Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan S. Foto/pribadi

TOPAD

Pencitraan Tv One Demi Uang?