Home / TOPAD

Jumat, 22 Januari 2021 - 18:30 WIB

Mengulang Sejarah, Polri Dekat dan Dicintai Rakyat

Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

“MENGAWALI Tonggak, Awal Momentum Lompatan Besar, Mewujudkan Indonesia Raya, Aman, Adil, Sejahtera, dan Makmur Sentosa.”

Perwujudan keinginan di atas, sudah lama dibelenggu oleh laku yang semakin menonjolkan sisi negatifnya, dan saat ini, ketika kehadiran laku disiplin dan taat sangat diperlukan untuk mengatasi penyebaran Covid-19, yang muncul adalah laku abai, kebalikannya. Perlemahan laku disiplin dan taat dimaksud sudah berlangsung lama, dan kerugian yang ditimbulkannya sudah tidak terkira.

Menggantikan peran laku tersebut dengan vaksin, harus dibayar mahal. Menunggu vaksin bekerja di tengah peningkatan Covid-19, yang keberadaannya sudah memasuki tahun kedua, sudah muncul laku berebutan yang dapat memperlambat program vaksin. Anggaran besar terus mengalir menopang hidup akibat roda ekonomi yang tersedak atau terdiam, menunggu Covid-19 pergi jauh.

Entah kenapa disiplin dan ketaatan yang tidak berbayar dan sudah melekat dalam diri kita, terpendam, tidak keluar dari diri kita. Cukup hanya dengan berdiam sejenak, berjanji dalam hati, sambungkan ke pikiran dan serentak berucap, “Yuk kita mulai berdisiplin dan taat”, tidak juga terwujud. Sepertinya masih sulit, dan sangat disayangkan, peran guru, rohaniawan dan para ulama yang tadinya mampu menghadirkan, seolah tidak berdaya.

Selain berdampak pada kehidupan sosial, budaya dan ekonomi, dampak lainnya telah menyuburkan pertumbuhan kejahatan, yang saling mengait dan saling mempengaruhi. Jika demikian, harapan yang mungkin tersisa, menoleh ke polisi, benteng terakhir untuk menghadirkan laku disiplin dan ketaatan, sekaligus kekuatan yang mampu membendung pertumbuhan kejahatan tersebut.

Harapan baru muncul dan telah berkuncup, kehadiran yang disambut gembira oleh wakil rakyat di gedung DPR, applause dan apresiasi yang diberikan, sangat menyejukkan hati. Harapan masih ada, mari kita turut serta untuk menjaga dan memeliharanya agar mekar, memberi manfaat besar bagi kita semua.

Harapan tersebut, akan terwujud jika 7 poin yang tertulis di makalah yang disampaikan oleh Jenderal Pol Drs Listyo Sigit Prabowo, M.Si dijalani. Visi dan misi yang tersusun serta terurai sistematis, menempatkan bidang-bidang yang menjadi skala prioritas perbaikan, yaitu: Satu, Polri sebagai institusi yang prediktif, responsibilitas, transparan dan berkeadilan atau Presisi. Dua, menjamin keamanan. Tiga, menjaga soliditas internal Kepolisian. Empat, meningkatkan sinergitas dan soliditas TNI-Polri dan institusi lainnya untuk mendukung dan mengawal program pemerintah. Lima, mendukung terciptanya inovasi dan kreatifitas yang mendorong kemajuan ekonomi Indonesia. Enam, menampilkan kepemimpinan yang melayani dan menjadi teladan. Tujuh, preventif atas ‘restorative justice’, ‘problem solving’, setia kepada NKRI, dan merawat kebhinekaan.

Dibutuhkan gerak cepat, konsolidasi merapatkan barisan, hilangkan isu pengelompokkan di institusi kepolisian, segeralah bersatu, bahu-membahu memikul beban dan tantangan ke depannya, demi 268 juta rakyat Indonesia. Bekerja sama atas persamaan tujuan demi 268 juta rakyat Indonesia, bertoleransi, atas perbedaan, demi 268 juta rakyat Indonesia.

Empat bintang yang akan bertengger di pundak Kapolri, dimaknai saja sebagai 4 angkatan yang dilompati,  berjejer rapat menjadi satu kesatuan, team work yang solid, menjalankan tugas dan tanggungjawab sesuai fungsi masing-masing, satu visi dan misi di bawah manajemen dan komando yang humanis dari Kapolri baru, Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Dukungan rakyat sangat dibutuhkan, berperan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi), porsi dan fungsi masing-masing. Beri ruang ke Polri untuk dapat menyusun strategy maps dari 7 poin yang telah disampaikan Kapolri baru di gedung Dewan, kepada DPR dan rakyatnya. Kemudian menjabarkan dan memetakan ke tujuh poin tersebut ke masing-masing objektifnya, jelas dan terukur. Kemudian pembenahan SDM dari segala aspek agar SDM yang dipercayakan untuk melaksanakan strategy plans tersebut, dapat tercapai sesuai dengan key performance indicator (KPI) yang sudah dituangkan dan disepakati, untuk kemudian diukur secara regular, dipertanggungjawabkan secara internal, demikian juga ke rakyatnya, selaku pemegang kekuasaan tertinggi.

Memikirkan, merencanakan dan mendistribusikan ke semua hal di atas bukan pekerjaan mudah dan singkat. Butuh kerja keras dan team work seluruh internal Polri. Pengorbanan individu dan kelompak juga berperan di sini. Ikhlas demi 268 juta rakyat perlu ditanamkan dalam hati dan pikiran semua pihak, ikhlas keluar dari zona nyaman atas kekayaan, kekuasaan, kemudahan, dan keistimewaan lainnya yang sudah digenggam selama ini, untuk memudahkan dan membebaskan lembaga Polri menyusun serta mempersiapkan segala sesuatunya untuk dapat mewujudkan pencapaian dari strategy plan mereka.

Ego individu dan kelompok yang cukup kencang meniupkan dugaan pelanggaran hukum yang terjadi di masa lalu untuk segera didahulukan penyelesaiannya, sebaiknya dihentikan. Bukankah DPR, wakil rakyat telah memberikan applause dan apresiasi kepada Polri dengan rencana 7 poin tersebut di atas. Dugaan pelanggaran hukum berjejer, mungkin saja 268 juta rakyat memiliki kasus dugaan pelanggaran hukum. Bisa dibayangkan jika 268 juta rakyat tersebut meminta didahulukan juga, apa jadinya nanti?

Kontrol yang paling utama saat ini didahulukan adalah preventive control, berupa pembenahan teknologi dan sistem online terintegrasi untuk mempercepat pelayanan dan meminimize potensi pelanggaran hukum. Kemudian corrective control dan detective control yang sudah berjalan rutin selama ini. Hambatannya bukan hanya dari internal Polri, namun jauh lebih berat dari itu ada di eksternal lingkungan Polri, perilaku rakyat yang semakin mengarah ke hal-hal negatif.

Sebagai contoh, perilaku disiplin dan taat yang sampai saat ini masih melekat, belakangan ini viral “perilaku berebut”. Berebut bansos, berebut vaksin, berebut kekuasaan, berebut pengaruh, berebut intervensi, dan berebut lainnya.

Menangkap pencuri, pembunuh, penipu, perusuh, penghasut, perampok, pencopet, pemerkosa, buronan dalam negeri dan luar negeri, adalah persoalan mudah bagi polisi, hanya hitungan jam atau hari.

Program utama yang harus menjadi prioritas utama adalah membangun preventive control. Mengikuti perkembangan zaman ini, Polri sudah harus masuk ke sistem komputerisasi, digitalisasi, online dan terintegrasi ke seluruh wilayah, ke 83.000 desa/kelurahan yang tersebar di wilayah NKRI.

Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara, situs www.pusatnusa.com, sejak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, bentuk kecintaannya atas eksistensi NKRI, telah mengenalkan beberapa hasil inovasi sistem berbasis digitalisasi, online dan terintegrasi, yang sudah disosialisasikan secara terbuka melalui media online Beritanusa.id. Inovasi sistem yang dikembangkan tidak terbatas pada pemberdayaan masyarakat, ekonomi dan kesehatan. Inovasi sistem yang tepat guna dan compatiable bagi lembaga-lembaga negara lainnya juga yang saat ini sedang dalam pengembangan, termasuk untuk lembaga kepolisian yang dirancang dapat menjawab tantangan serta mewujudkan tujuan yang kita cita-citakan bersama.

Penulis, yang kebetulan juga selaku pendiri Pusatnusa.com, dan bagian dari keluarga Bhayangkara, lahir di Asrama Polisi berdinding papan ketika itu, berbekal susu pink dan catu, dengan sebutan anak tangsi, anak kolong yang sebutan itu masih melekat  bayangan negatif, sangat berharap “Keluarga Bhayangkara” di bawah kepemimpinan Kapolri yang baru, mampu menjadi pelopor tonggak sejarah, awal tahapan “Momentum Lompatan Besar”. Mengulangi sejarah, yang pernah dihadirkan dan memiliki tokoh idola di zamannya, Jenderal Hoegeng. Bekerja amanah, ikhlas dan tulus, berkorban demi rakyat banyak.

Dengan pendekatan, fasilitas dan teknologi zaman now, mengulang sejarah, Keluarga Bhayangkara yang dekat dan dicintai rakyat, karena perannya, pelopor terbentuknya tonggak sejarah, awal pemicu “Momentum Lompatan Besar”, bagian perwujudan “Indonesia Raya Terbarukan, Aman, Sejahtera, Adil, Makmur, Adil dan Sentosa”.

Siap, Selamat Bekerja, Selamat Berkarya Jenderal.

Share :

Baca Juga

Parluhutan (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa).

TOPAD

Tetaplah Jadi Orang Nusantara dengan Adat-Budaya Nusantara
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Sekecil Apapun Cahaya Pasti Terlihat dalam Kegelapan

TOPAD

Belajar Online Hemat 450 Triliun

NUSANTARA

Walikota Baru Kota Cilegon Dilantik
Parluhutan (Topad), Pendiri Perkumpulan Aliansi Perduli Indonesia Jaya

TOPAD

Ekonomi Terjajah dan Pentingnya Menggugat Perppu Corona

TOPAD

Selamat Natal 2020 dan Tahun Baru 2021
Parluhutan S (Topad), Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa

NASIONAL

Pahlawan Zaman Now
Parluhutan (Topad), Pendiri Perkumpulan Aliansi Perduli Indonesia Jaya

TOPAD

Bangkit Yuk!