Home / GLOBAL

Kamis, 13 Agustus 2020 - 13:38 WIB

Pemerintah Iran Diduga Rekayasa Data Jumlah Kasus Covid-19

JAKARTA, BERITANUSA.id – Pemerintah Iran diduga merekayasa data jumlah kasus positif virus corona (Covid-19) untuk alasan politik dan keamanan. Hal itu diungkap oleh ahli epidemiologi Iran yang termasuk dalam satuan tugas penanganan Covid-19 Mohammad Reza Mahboobfar.

“Pemerintah merahasiakannya karena alasan politik dan keamanan dan hanya memberikan statistik yang direkayasa kepada publik,” ujar Reza dalam laporan surat kabar Jahane Sanat, yang dikutip Associated Press, Kamis (13/8).

Dalam laporan itu Reza mengatakan angka resmi kasus positif virus corona dan kematian di negara itu hanya mencapai 5 persen dari jumlah sebenarnya.

Reza yang bekerja pada satgas anti-virus corona pemerintah mengatakan jumlah sebenarnya dari kasus positif dan kematian Covid-19 di Iran bisa 20 kali lipat lebih banyak dari jumlah yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan.

Dia juga mengatakan bahwa virus itu terdeteksi di Iran sebulan lebih awal, ketika pihak berwenang setempat mengumumkan kasus pertama pada 19 Februari. Menurut Reza, pemerintah menahan pengumuman itu sampai setelah peringatan Revolusi Islam 1979 dan pemilihan parlemen pada awal Januari.

Dia juga mengkritik upaya pengujian dan memperingatkan wabah baru pada bulan depan karena universitas mengadakan ujian masuk dan warga memperingati hari libur besar Syiah.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran, Sima Sadat Lari, membantah tuduhan itu dan mengatakan bahwa Reza tidak berperan dalam kampanye anti-virus corona pemerintah. Mengutip pernyataannya, kantor berita resmi IRNA mengatakan bahwa pihak kementerian telah memberikan angka-angka kasus positif dan kematian dengan “transparan”.

“Kementerian Kesehatan bukanlah badan politik dan kesehatan rakyat adalah prioritas utama,” ujar Sima.

Sementara itu, surat kabar yang menerbitkan pernyataan Reza, Jahane Sanat, ditutup oleh pemerintah Iran pada Senin. Hal itu diungkap oleh Pemimpin Redaksi Jahane Sanat, Mohammad Reza Sadi, kepada IRNA.
Pemerintah Iran menuai kecaman keras sejak pandemi melanda karena enggan memberlakukan pembatasan ketat.

Hingga kini, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan total hampir 330 ribu kasus dan 18.616 kematian.
(cnn/idn)

Share :

Baca Juga

Ilustrasi gempa dan tsunami. Foto/Ist

GLOBAL

Gempa Magnitudo 7.5, Tsunami Terjang Alaska
Aksi demonstrasi menentang kudeta militer Myanmar di Yangon. Foto/AFP

GLOBAL

Pedemo Myanmar Serukan Mogok Besar-besaran Tolak Kudeta
Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin menyampaikan pernyataan pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat, 5 Februari 2021. Foto/BPMI Setpres

GLOBAL

3 Isu yang Dibahas RI-Malaysia
Ilustrasi Korea Selatan. Foto/AFP

GLOBAL

Korsel Sahkan RUU Larangan Propaganda ke Korut
Ekonomi Singapura masuk dalam resesi pada kuartal terakhir seiring dengan terpukulnya bisnis dan belanja ritel akibat perpanjangan karantina wilayah alias lockdown. (Foto: MSN)

EKONOMI

Akibat Pandemi Virus Corona, Singapura Masuk Resesi
Ilustrasi rute pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Jakarta-Pontianak yang jatuh di atas Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Ilustrasi/Pixabay

GLOBAL

Media Asing Soroti Jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182
Petugas keamanan Bandara Internasional Kuala Lumpur mengawasi kedatangan penumpang pesawat di tengah pandemi covid-19. Foto/AFP/Mohd RASFAN

GLOBAL

Malaysia Berlakukan Darurat Covid-19 hingga Agustus 2021
Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi melakukan kunjungan kerja dengan mitranya di Inggris, Menlu Dominic Raab. Foto/Ist

GLOBAL

Indonesia-Inggris Bahas Soal Kerja Sama Vaksin Covid