Home / GLOBAL

Kamis, 27 Agustus 2020 - 15:08 WIB

Pertikaian Yunani dan Turki Bisa Picu Perang

Kapal perang di Laut Mediterania. Foto/Ist

Kapal perang di Laut Mediterania. Foto/Ist

MEDITERANIA, BERITANUSA.id – Pertikaian antara Yunani dan Turki akibat eksplorasi energi di perairan timur Mediterania membuat kedua negara selangkah lagi bisa terlibat peperangan.

Padahal, Turki dan Yunani sama-sama sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Jika tidak upaya menengahi kedua belah pihak, maka konfrontasi militer di antara keduanya bisa meletup.

Dikutip dari CNN, Kamis (27/8), kapal angkatan laut dari kedua negara sudah unjuk kekuatan di wilayah yang diperebutkan di perairan timur Mediterania. Perlombaan untuk mendapatkan cadangan gas dan minyak menambah titik gesekan baru pada perselisihan lama antar keduanya.

Pertikaian antara Turki dan Yunani kembali berkobar ketika Ankara mengumumkan bahwa mereka memperpanjang durasi misi eksplorasi seismik menggunakan kapal survei Oruc Reis di perairan yang disengketakan. Yang semula misi itu diharapkan berakhir pada Senin malam lalu, menurut catatan navigasi maritim menggunakan sistem NAVTEX global.

Kapal Oruc Reis dikawal oleh empat kapal angkatan laut Turki. Kementerian Pertahanan Turki mengumumkan latihan maritim di daerah itu pada Selasa.

Yunani menganggap eksplorasi gas Turki adalah langkah ilegal. Athena menanggapi Ankara dengan mengeluarkan pesan balasan NAVTEX dan mengumumkan latihan angkatan laut di lokasi yang sama di selatan Turki dan pulau Kastellorizo Yunani, yang terletak lebih dari satu mil dari pantai Turki.

Kemudian pada Rabu, Turki mengkonfirmasi bahwa kapal perang angkatan lautnya sedang melakukan “pelatihan maritim” dengan kapal Amerika Serikat di Mediterania Timur.

Pejabat Prancis dan Italia mengatakan dua negara itu bukan satu-satunya yang melakukan pelatihan maritim, karena Prancis dan Italia bergabung dengan Yunani dan Siprus untuk melakukan latihan angkatan laut bersama. Langkah itu kemungkinan besar akan meningkatkan ketegangan lebih jauh di wilayah tersebut.

“Mediterania Timur telah berubah menjadi ruang ketegangan. Penghormatan terhadap hukum internasional harus menjadi aturan dan bukan pengecualian. Bersama mitra Siprus, Yunani, dan Italia, kami akan memulai latihan militer mulai hari ini dengan metode maritim dan udara,” tulis Menteri Pertahanan Prancis, Florence Parly, di Twitter pada Rabu.

Dalam sebuah pernyataan, Angkatan Laut Italia menyerukan “kerja sama dan dialog yang lebih kuat” bahwa mereka akan ambil bagian dalam latihan di lepas pantai Siprus bersama unit angkatan laut Prancis, Siprus, dan Yunani antara 26-28 Agustus.

Sementara Yunani dan Turki terlibat diplomasi kapal perang yang menarik lebih banyak negara ke dalam perselisihan, Jerman berusaha mengurangi ketegangan yang terancam akan meluas secara regional.

“Saat ini perbincangan antara Yunani dan Turki harus dibuka lebih jauh. Selain itu, alih-alih (membuat) provokasi baru, kami saat ini membutuhkan langkah-langkah untuk rileks dan memulai diskusi langsung,” tulis Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, di Twitter.

Maas mengunjungi Athena dan Ankara pada Selasa dalam upaya untuk membawa kedua negara kembali ke meja perundingan.

Menyusul pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Yunani, Nikos Dendias, dalam konferensi pers bersama mengatakan “Turki terus bertindak melawan hukum untuk meningkatkan dan memprovokasi, meskipun ada desakan dari tetangga, mitra, dan sekutunya”.

“Yunani akan mempertahankan kedaulatan dan hak kedaulatannya atas nama hukum. Yunani akan mempertahankan perbatasan nasional dan perbatasan Eropa, kedaulatan dan hak kedaulatan Eropa… tapi Yunani membuktikan bahwa kami akan selalu siap berdialog. Namun, tidak ada dialog di bawah ancaman,” tambah Dendias.

Ankara juga menyatakan terbuka terhadap dialog, tapi harus tanpa prasyarat dan berpusat pada distribusi sumber daya yang adil.

“Kami siap untuk bernegosiasi… tapi tidak ada yang boleh mencoba untuk memaksakan prasyarat pada Turki, terutama yang tidak ditentukan oleh Yunani,” kata Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, dalam konferensi pers bersama dengan Maas.

“Kalau pembagiannya adil, bukan pemaksaan sepihak, kita semua diuntungkan,” tambah Cavusoglu.

Upaya Jerman untuk mencapai kesepakatan antara Yunani dan Turki gagal dilakukan pada awal Juli. Turki menghentikan survei seismik gas di wilayah sengketa saat negosiasi sedang berlangsung. Namun, menurut pemerintah Turki, pembicaraan tersebut gagal setelah Yunani menandatangani perjanjian demarkasi maritim parsial dengan Mesir.

Sejak itu Turki telah melakukan survei di perairan yang diperebutkan.

Seorang peneliti senior di Institut Austria untuk Studi Eropa dan Keamanan, Michael Tanchum, mengatakan sengketa wilayah antara Turki, Yunani, dan pulau Siprus yang terpecah telah selalu memicu ketegangan regional selama bertahun-tahun. Namun sumber daya gas alam di timur Mediterania Timur selama lima tahun terakhir. (cnn/idn)

Sumber: CNN Indonesia

Share :

Baca Juga

Iran. Foto/AFP

GLOBAL

Iran Sambut Baik PBB Perintahkan AS Cabut Sanksi ke Teheran
Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). Foto/Antara

GLOBAL

Swiss Hapus Bea Masuk Sawit Indonesia
Calon penumpang berjalan untuk lapor diri sebelum naik pesawat di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (23/12/2020). Foto/Antara

GLOBAL

RI Perpanjang Larangan Masuk WNA hingga 25 Januari
Ilustrasi peretas. Foto/Ist

GLOBAL

AS: Target Peretas Asal Korut Incar Bank
Presiden AS Donald Trump. Foto/Ist

GLOBAL

Trump Diklaim Bakal Persulit Transisi Pemerintahan Biden
Foto: Istimewa

GLOBAL

Kisruh, Israel Gelar Pemilu ke-4 dalam Dua Tahun
Pangkalan militer China. Foto/Ist

GLOBAL

Tak Ada Pangkalan Militer Asing di RI
Topan Masyak menerjang Korea Selatan. AFP

GLOBAL

2.200 Orang Diungsikan Akibat Topan Masyak