Home / TOPAD

Kamis, 26 November 2020 - 15:01 WIB

Revitalisasi Kearifan Lokal

Parluhutan S (Topad), Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa

Parluhutan S (Topad), Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa

Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa).

POTENSI perusak kesatuan, persatuan dan intoleransi belakang ini harus menjadi perhatian serius, karena dapat merusak pembangunan fisik dan nonfisik yang sudah dibangun selama ini. Bangsa ini diwariskan alam yang kaya raya dan nilai sosial budaya yang cukup tinggi. Salah satunya kearifan lokal yang terbukti membuat bangsa ini, hidup berdampingan, bersatu, bergotong royong, merdeka dan disegani oleh bangsa lain.

Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua, satu bangsa, Bangsa Indonesia. Keanekaragaman menjadi satu ciri khas yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, baik itu dalam lingkup sosial, budaya dan agama.

Wilayah luas, alam kaya raya, teknologi berkembang, penduduk 268 juta, kemajuan transportasi dan komunikasi terhubung ke seluruh penjuru, dilengkapi dengan hukum berlapis, aparat hukum, militer dan alutsista modern, dan kelengkapan lainnya yang tidak ada pada generasi pendahulu bangsa ini, namun dengan keterbatasan kemajuan pembangunan fisik diatas, mampu menghasilkan pencapaian nonfisik yang tidak ternilai harganya, membangun kearifan lokal.

Dengan kearifan lokal masing-masing, bangsa lain dapat lebih maju karena warisan nonfisik yang mereka turunkan generasi ke generasi. Sebut saja Jepang dengan karakter kerja keras, kejujuran dan saling menghormati mampu membawa negaranya menjadi negara maju. Amerika Serikat dengan kerja keras, terbuka, demokratis dan tanggung jawab yang konsisten terjaga dan diwariskan turun temurun, menjadikan negara tersebut negara adikuasa, demikian negara lainnya dengan nilai kearifan lokal yang terpelihara dan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan konsisten.

BACA JUGA:  Selamat Natal 2020 dan Tahun Baru 2021

Perlu dikaji dan dievaluasi, kenapa bangsa ini yang juga diwarisi kearifan lokal yang dulunya merupakan gagasan setempat, kebijaksanaan, nilai kebaikan yang sudah lama tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakat. Kebijaksanaan manusia yang berpijak pada filosofi nilai-nilai kehidupan, etika, perilaku, dan juga cara-cara yang dilakukan secara tradisional yang seharusnya bisa menjadi salah satu identitas budaya bangsa, jati diri dan berpengaruh terhadap watak serta karakter masyarakat.

Kearifan lokal tersebut ditemukan oleh masyarakat lokal tertentu melalui kumpulan pengalaman dalam mencoba dan diintegrasikan dengan pemahaman terhadap budaya dan keadaan alam suatu tempat. Artinya sudah melalui tahapan yang panjang dan dirumuskan melewati beberapa generasi, ada proses try dan error dan sebagainya.

Selayaknya kearifan lokal atau local wisdom tersebut diwariskan secara terus menerus dan turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Jika tidak disadari, mungkin di generasi selanjutnya, warisan kearifan lokal dimaksud akan punah dan tidak berbekas, tergantikan dengan budaya luar, kebiasaan luar dan semua serba luar yang belum tentu sesuai dengan keberagaman yang ada pada bangsa ini.

BACA JUGA:  Sampai Kapan Corona Mengancam?

Perilaku mengedepankan ego individu atau kelompok belakangan semakin sering terjadi dan ditonjolkan. Ketidaktaatan yang ditutupi dengan kemampuan berargumen, pengaruh, kekuasaan dan kekuatan sangat menganggu kemajuan bangsa ini.

Ini menjadi pekerjaan rumah kita semua untuk dapat merevitalisasi kearifan lokal tersebut. Jangan sampai tergantikan dengan budaya dan kebiasaan luar yang terbukti saat ini sudah ada yang berdampak buruk untuk kemajuan bangsa ini. Kesadaran yang sudah mulai bangkit belakang ini harus dijaga dan ditingkatkan bersama.

Pemerintah juga harus dapat merencanakan langkah-langkah dan menempatkan perwujutan revitalisasi kearifan lokal ini menjadi prioritas dalam rangka pembangunan karakter building bangsa ini. Sudah sering terdengung seruan revolusi mental, revolusi ahlak dan revolusi lainnya yang sejenis. Pemerintah dan rakyat sebaiknya ambil alih dan menjadi pelopor dan pelaku utama, jangan sampai dimamfaatkan pihak dan kelompok lain untuk tujuan dan kepentingan kelompoknya. Bangkit, bangkit, bangkit.

Bravo Pemerintah, Bravo TNI, Bravo Polisi, Bravo Rakyat.

Share :

Baca Juga

Parluhutan (Topad), Pendiri Perkumpulan Aliansi Perduli Indonesia Jaya

TOPAD

Industri Padat Karya Memulihkan Resesi
Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan S.

TOPAD

Pak Menteri, Miskin Bukan Status Bawaan
Parluhutan (Topad),Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa). Foto/Beritanusa

TOPAD

Menanti Vaksin Covid-19
Parluhutan (Topad), Pendiri Perkumpulan Aliansi Perduli Indonesia Jaya

TOPAD

Pekik 45, Go To Hell Covid-19 and Owner’s
Ketua Umum PUSATNUSA Parluhutan S. Foto/pribadi

TOPAD

Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat

TOPAD

Awas! Pahlawan Palsu?
Oleh: Parluhutan S.SE.Ak, M.Ak, CA, CMA (Topad), pendiri Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (Pusatnusa/www.pusatnusa.com).

TOPAD

Perwujudan ‘Polisi dan Indonesia Raya Terbarukan’
Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Rakyat Nusantara (PUSATNUSA) Parluhutan S. SE.Ak, M.Ak, CA, CMA atau Topad memberikan arahan kepada para relawan muda dalam mengembangkan sistem pasar digital untuk para pelaku Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM), di Gedung Gorga, Jakarta, Senin (3/8). (Foto: Radhea Heqamudisa/Beritanusa.id)

TOPAD

Selamat dan Harapan Pusatnusa Atas Perayaan Milad ke-108 Muhammadiyah