Home / EKONOMI

Rabu, 24 Februari 2021 - 23:01 WIB

Sektor Pertanian Lebih Kuat dari Industri Saat Pandemi

Warga Desa Mondoretno, Kecamatan Bulu, Temanggung memanen sayuran organik di pekarangan rumah. Foto/MI

Warga Desa Mondoretno, Kecamatan Bulu, Temanggung memanen sayuran organik di pekarangan rumah. Foto/MI

JAKARTA, BERITANUSA.id – Badan Pusat Statistik (BPS) memaparkan sektor pertanian mampu tumbuh 1,75 persen sepanjang 2020. Pertanian tumbuh ketika mayoritas sektor justru terkontraksi tahun lalu, khususnya sektor industri.

Koordinator Fungsi Konsolidasi Neraca Produksi Nasional Nur Indah Kristiani menjelaskan, selain pertanian, ada enam sektor yang tumbuh positif pada 2020. Keenam sektor itu antara lain jasa keuangan, informasi dan komunikasi, jasa pendidikan, real estat, jasa kesehatan, dan pengadaan air.

Sementara, sektor yang bergerak negatif pada 2020, yakni industri, perdagangan, konstruksi, pertambangan, transportasi dan pergudangan, akomodasi dan makan minum, jasa lainnya, jasa perusahaan, serta pengadaan listrik dan air.

Realisasi ini menggambarkan pertanian mampu menjadi salah satu sektor yang mendorong perekonomian di masa pandemi covid-19. Indah menyatakan sub sektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian tumbuh 1,75 persen pada 2020, sedangkan kehutanan minus 0,03 persen dan perikanan tumbuh 0,73 persen.

“Selama covid-19 kuartal I sampai kuartal IV 2020 tanaman pangan dan hortikultura tumbuh. Sub sektor perkebunan, perikanan, dan peternakan ada tren pertumbuhan meski melambat, jadi pengaruh pandemi lebih kepada sub kategori itu,” ujar Indah dalam Webinar: Menakar Kekuatan Sektor Pertanian Sebagai Penopang Ekonomi Nasional, Selasa (23/2).

Sementara, Indah menjabarkan lapangan usaha di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan pada 2020 tercatat tumbuh. Ia merinci lapangan usaha di Sumatra naik 239 persen, Kalimantan naik 0,26 persen, Sulawesi naik 0,37 persen, Maluku dan Papua naik 0,15 persen, dan Jawa naik 34,96 persen.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Senior LPEM FEB UI Riyanto menyatakan pertanian memiliki kekuatan lebih besar dibandingkan dengan sektor industri. Dengan kata lain, pertumbuhan sektor pertanian akan lebih berpengaruh ketimbang industri.

“Pertanian punya kekuatan lebih besar dari industri. Di sektor pertanian ada produk unggulan, pangan dan perkebunan, lalu perikanan yang menjanjikan,” kata Riyanto.

Menurutnya, efek pengganda (multiplier effect) dari sektor pertanian bisa dirasakan untuk seluruh sektor, khususnya industri. Berdasarkan perhitungannya, setiap 1 persen pertumbuhan sektor pertanian berarti ada 1,36 persen pertumbuhan di industri.

“Misal pertanian tumbuh 3 persen, jadi industri harusnya tumbuh 3 persen dikali 1,36. Jadi dorong sektor pertanian, ini bisa mengeluarkan Indonesia dari jebakan pertumbuhan ekonomi di 5 persen,” pungkas Riyanto.

Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi RI minus 2,07 persen pada tahun lalu. Realisasi Produk Domestik Bruto (PDB) ini anjlok dibandingkan 2019 lalu yang tumbuh 5,02 persen.

Kontraksi ekonomi Indonesia sejalan dengan pertumbuhan ekonomi sejumlah negara mitra dagang yang juga tercatat minus pada kuartal IV 2020. Rinciannya, Amerika Serikat (AS) minus 2,5 persen, Singapura minus 3,8 persen, Korea Selatan minus 1,4 persen, Hong Kong minus 3 persen, dan Uni Eropa minus 4,8 persen.

(cnn/eko)

Share :

Baca Juga

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Foto/MI

EKONOMI

Balai Uji Kendaraan Bermotor Bakal Dibangun di Bekasi
Kota layak huni. Foto/PUPR

EKONOMI

PUPR Terus Dorong Terwujudnya Kota Layak Huni dan Berkelanjutan
Pengemudi angkutan umum menunggu penumpang di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, Rabu (15/4/2020). Foto/Antara

EKONOMI

Subsidi untuk Angkutan Umum dan Barang Masih Ada
ilustrasi -- Pekerja mengerjakan proyek pembangunan rumah bersubsidi. Foto/Antara

EKONOMI

Syarat Beli Rumah DP 0 Persen
Ilustrasi uang Rupiah. Foto/Ist

EKONOMI

Program BLT UMKM Bakal Lanjut pada 2021
Ilustrasi uang digital Bitcoin. Foto/Tirto

EKONOMI

Resmi! Indonesia Punya Bursa Uang Digital Legal
Lalu lintas jalan tol. Foto/Antara

EKONOMI

Alasan PUPR Naikkan Tarif Tol Jakarta-Cikampek
Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto/Pikiran Rakyat

EKONOMI

Sri Mulyani Ungkap Ekonomi Digital Naik 3 Kali Lipat pada 2025