Home / EKONOMI

Rabu, 26 Agustus 2020 - 14:59 WIB

Survei: Hanya 47,13 Persen UMKM yang Bertahan saat Pandemi

JAKARTA, BERITANUSA.id – Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengatakan, berdasarkan hasil survei LIPI pada Juni 2020, diperkirakan hanya 47,13 persen usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang mampu bertahan sampai Agustus 2020 di masa pandemi corona.

“Survei LIPI pada Juni 2020 menunjukkan bahwa 47,13 persen yang mampu bertahan sampai Agustus yang kita prediksi saat itu. Daya tahan dan daya saing UMKM dulu begitu kuat kini seperti lenyap begitu saja karena dampak covid-19 ini,” kata Tri dalam webinar Kebijakan Pembangunan yang Inklusif dan Berkelanjutan Strategi Pemulihan Pasca-Pandemi, Rabu (26/8).

Dia menjelaskan, saat ini kekuatan imunitas UMKM akibat pandemi covid-19 ini menurun drastis, seiring dengan berbagai disrupsi. UMKM semakin berat di semua sektor baik, primer, sekunder dan tersier, yang terlihat dari semakin melemah dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor.

“Jangankan untuk ekspor untuk memenuhi dalam negeri pun semakin melemah sehingga untuk bertahan saja sudah sulit,” ujarnya.

Kendati begitu, dirinya optimis dunia usaha skala besar, memiliki komitmen dalam mendukung pembangunan ekonomi dengan menjalin kemitraan bersama UMKM di Indonesia. Menurutnya, UMKM merupakan entitas bisnis yang bisa menjadi simbol sekaligus instrumen utama dalam proses menuju pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Apalagi pada sidang tahunan MPR 14 Agustus 2020 lalu, dalam pidato kenegaraannya Presiden Joko Widodo menunjukkan keberpihakan dalam upaya melaksanakan proses pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, melalui berbagai instrumen pengembangan kawasan industri yang melibatkan kewirausahaan swasta lokal UMKM di pelosok negeri.

Dirinya meyakini sehingga diperlukan sinergi semua elemen bangsa untuk Bersama-sama dengan pemerintah berusaha bangkit dari keterpurukan dampak covid-19 ini. Bangkit ini tidak hanya terkait bagaimana mencapai pertumbuhan ekonomi yang positif.

Namun yang lebih penting bagaimana mendistribusikan dan mengubah pola pertumbuhan ekonomi menjadi bagian dari proses pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, sehingga hasil pembangunan ini bisa dinikmati oleh anak bangsa dan generasi berikutnya.

“Sebagai Lembaga Ilmu pengetahuan LIPI melihat kontraksi ekonomi yang terjadi dalam masa pandemi covid-19 ini tentu adalah hal yang wajar tidak bisa kita elakkan, karena terjadi disrupsi secara masif baik dari sisi permintaan maupun penawaran supply dan demand,” tandasnya. (lip/ena)

Sumber: Liputan 6

Share :

Baca Juga

Ilustrasi uang Rupiah. Foto/Antara

EKONOMI

Aturan Bank Digital Ditargetkan Terbit Semester I 2021
Ilustrasi uang Rupiah. Ist

EKONOMI

BLT UMKM Rp2,4 Juta Tutup 10 September, Segera Daftar!
Suasana pembangunan kompleks perumahan bersubsidi di Bogor, Jawa Barat, Senin (6/1). Foto/Antara

EKONOMI

BI Berlakukan DP KPR Nol Persen Mulai 1 Maret
Anggota Komisi IX DPR RI Lucy Kurniasari. Foto/DPR RI

EKONOMI

Tak Naikkan Upah Minimum 2021, Menaker Harus Pertimbangkan Prinsip Keadilan
Menteri Pariwisata, Ekonomi dan Kreatif Sandiaga Uno. Foto/Antara

EKONOMI

Strategi Menteri Sandiaga Genjot Pariwisata 2021
Karyawan bank menghitung tumpukan uang Rupiah. Foto/MI/Ramdani

EKONOMI

BRI dan OVO Bantu UMKM dengan Salurkan Kredit Modal
Ilustrasi energi panas bumi. Foto/Ist

EKONOMI

Investor Dipermudah Kembangkan Energi Panas Bumi
Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). Foto/Antara

EKONOMI

Program B30 Belum Dinikmati Petani Sawit